Ngeremon soal Pilgub NTB 2018
Hmm....bicara Pemilihan Gubernur 2018 terus terang, yang saya kenal saat ini hanya 3 calon. Pertama Suhaili FT, Ahyar Abduh dan Ketiga Ali BD. Ketiganya saya kira akan cukup alot bertarung, kesempatannya untuk memenangkan pertarungan besar. Dukungan parpol dan dukungan tokoh serta Ormas saat ini yang paling penting.
Pertama Dukungan partai politik. Golkar sudah pasti mengusung Suhaili, minimal itu sudah tampak dari sekarang. Ahyar walaupun juga Golkar, sudah merapat ke Gerindera.
Demokrat, PKS juga PKB dan PPP belum menentukan pilihannya. Kebiasaan memang 4 parpol ini, kerjaannya menunggu. Suara Demokrat "TGB" juga akan menentukan arah dukungan Ormas NW. Begitu juga PKB dan PPP akan menentukan arah suara NU.
Kedua dukungan Tokoh dan Ormas. Dua ormas paling besar di NTB NW dan NU mau tidak mau harus diakui memang sangat menentukan. Belajar dari pengalaman pilgub 2008, NW menjadi massa paling militan ke TGB. Jangan hitung yang periode kedua, karena periode kedua TGB menang lebih karena faktor kepuasan pemilih melihat kinerja Gubernur.
Begitupula belajar dari pilbub loteng, keberhasilan Suhaili-Fathul adalah keberhasilan Keluarga Besar Yatofa menggaet suara NU dari Fathul Bahri yang adalah tokoh NU tulen. Maka Gede "NW" tak bisa berkutik sampai dua kali Pilbub.
Namun yang harus diingat, pontensi pecahnya suara NW tidak bisa dihindari. Berkaca ke pengamatan pilgub yang sudah-sudah, NW pastinya akan terbelah lagi. Sulit menyatukan suara dualisme NW, Anjani dan Pancor karena Islah Kultural itu tak kunjung berhasil.
Suara Dari Timur
Karena NTB terdiri dari dua pulau, maka suara dari timur (Sumbawa, Bima dan Dompu) menjadi penentu kedua.
Maka tiba pada obrolan siapa pasangan siapa. Para calon saat ini sedang saling jajaki potensi masing-masing. Sebagai 3 yang diunggulkan, Suhaili, Ahyar, Ali BD saat ini pasti berfikir keras, siapa calon dari Timur yang potensial dan menguntungkan.
Kiai Zul yang sempat mencalonkN diri di pilgub 2014 belum kelihatan serius maju lagi. Dan sesuatu yang agag berat jika mengharapkan ia akan mau jadi nomor 2 bagi tiga calon yang diunggulkan itu.
Jikapun ia Maju, maka dia bisa dipastikan akan mengambil wakil dari pulau lombok dan kemungkinan menangnya tipis.
Sementara itu Suhaili, Ahyar dan Ali BD bisa saja mengambil wakil dari Lombok Sendiri dengan tidak mengabaikan pemilih Sumbawa dan Bima. Caranya, berikan porsi jabatan penting dijabat politisi-politisi dari timur.
Yang paling logis, sepertinya akan kembali ke format lama, Gubernur dari Pulau Lombok dan Wakil Gubernur harus dari timur. Atau sebaliknya, Gubernurnya dari Timur dan Wakil Gubernurnya dari Lombok.
Menyoal politisi Timur, maka yang cukup diperhitungkan adalah M. Amin. Politisi yang sekarang inkmben ini bisa leluasa memainkan kartu. Siapa yang akan berpasangan dengan dia, secara politis dan borokratis akan sangat menguntungkan. Kecuali akan muncul calon lain dari timur yang bisa menandingi popularitas Amin yang sekarang. Tapi ya belum kelihatan hingga saat ini.
Suara Minoritas
Ada satu kekuatan lagi dan tak bisa diremeh temehkan adalah suara minoritas (Hindu, Kristen, Jawa dan aliran-aliran dalam Islam seperti Ahmadiyah dan Salafi). Yang paling besar tentu Hindu dan Kristen.
Suara mereka layak diperhitungkan karena agag susah dimasukkan di kolom pemilih mengambang (swing voter). Beberapa komunitas minoritas ini akan menentukan pilihan bersamaan dengan isu-isu dan materi kampanye yang dibangun. Kecanggihan meracik isu yang bisa menjamin keamanan, toleransi dan kebijakan yang tidak merugikan mereka akan menentukan ke calon yang mana suara mereka akan berlabuh. Bersambung ....
Pertama Dukungan partai politik. Golkar sudah pasti mengusung Suhaili, minimal itu sudah tampak dari sekarang. Ahyar walaupun juga Golkar, sudah merapat ke Gerindera.
Demokrat, PKS juga PKB dan PPP belum menentukan pilihannya. Kebiasaan memang 4 parpol ini, kerjaannya menunggu. Suara Demokrat "TGB" juga akan menentukan arah dukungan Ormas NW. Begitu juga PKB dan PPP akan menentukan arah suara NU.
Kedua dukungan Tokoh dan Ormas. Dua ormas paling besar di NTB NW dan NU mau tidak mau harus diakui memang sangat menentukan. Belajar dari pengalaman pilgub 2008, NW menjadi massa paling militan ke TGB. Jangan hitung yang periode kedua, karena periode kedua TGB menang lebih karena faktor kepuasan pemilih melihat kinerja Gubernur.
Begitupula belajar dari pilbub loteng, keberhasilan Suhaili-Fathul adalah keberhasilan Keluarga Besar Yatofa menggaet suara NU dari Fathul Bahri yang adalah tokoh NU tulen. Maka Gede "NW" tak bisa berkutik sampai dua kali Pilbub.
Namun yang harus diingat, pontensi pecahnya suara NW tidak bisa dihindari. Berkaca ke pengamatan pilgub yang sudah-sudah, NW pastinya akan terbelah lagi. Sulit menyatukan suara dualisme NW, Anjani dan Pancor karena Islah Kultural itu tak kunjung berhasil.
Suara Dari Timur
Karena NTB terdiri dari dua pulau, maka suara dari timur (Sumbawa, Bima dan Dompu) menjadi penentu kedua.
Maka tiba pada obrolan siapa pasangan siapa. Para calon saat ini sedang saling jajaki potensi masing-masing. Sebagai 3 yang diunggulkan, Suhaili, Ahyar, Ali BD saat ini pasti berfikir keras, siapa calon dari Timur yang potensial dan menguntungkan.
Kiai Zul yang sempat mencalonkN diri di pilgub 2014 belum kelihatan serius maju lagi. Dan sesuatu yang agag berat jika mengharapkan ia akan mau jadi nomor 2 bagi tiga calon yang diunggulkan itu.
Jikapun ia Maju, maka dia bisa dipastikan akan mengambil wakil dari pulau lombok dan kemungkinan menangnya tipis.
Sementara itu Suhaili, Ahyar dan Ali BD bisa saja mengambil wakil dari Lombok Sendiri dengan tidak mengabaikan pemilih Sumbawa dan Bima. Caranya, berikan porsi jabatan penting dijabat politisi-politisi dari timur.
Yang paling logis, sepertinya akan kembali ke format lama, Gubernur dari Pulau Lombok dan Wakil Gubernur harus dari timur. Atau sebaliknya, Gubernurnya dari Timur dan Wakil Gubernurnya dari Lombok.
Menyoal politisi Timur, maka yang cukup diperhitungkan adalah M. Amin. Politisi yang sekarang inkmben ini bisa leluasa memainkan kartu. Siapa yang akan berpasangan dengan dia, secara politis dan borokratis akan sangat menguntungkan. Kecuali akan muncul calon lain dari timur yang bisa menandingi popularitas Amin yang sekarang. Tapi ya belum kelihatan hingga saat ini.
Suara Minoritas
Ada satu kekuatan lagi dan tak bisa diremeh temehkan adalah suara minoritas (Hindu, Kristen, Jawa dan aliran-aliran dalam Islam seperti Ahmadiyah dan Salafi). Yang paling besar tentu Hindu dan Kristen.
Suara mereka layak diperhitungkan karena agag susah dimasukkan di kolom pemilih mengambang (swing voter). Beberapa komunitas minoritas ini akan menentukan pilihan bersamaan dengan isu-isu dan materi kampanye yang dibangun. Kecanggihan meracik isu yang bisa menjamin keamanan, toleransi dan kebijakan yang tidak merugikan mereka akan menentukan ke calon yang mana suara mereka akan berlabuh. Bersambung ....

