Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Wakil Tuhan


Diantara sekian banyak manusia yang merasa perlu mewakili Tuhan dibumi, ternyata ada seorang Nabi Sulaiman yang pernah ingin mencoba mewakili Tuhan dalam hal memberikan rezeki kepada makhluknya di Bumi.

Sulaiman lantas meminta Tuhan agar mencoba memberinya kesempatan memberi makan makhluk bumi selama setahun saja. Permintaan tidak mungkin itu akhirnya tak dikabulkan Tuhan. Sulaiman menawar, jika tidak diberi setahun, sebulan sajalah. Tuhan masih bergeming. Walau tak diberikan, Sulaiman ngotot meminta, kalo demikian sehari sajalah gag apa-apa. Permintaan yang terakhir ini akhirnya tuhan penuhi.

Dan mulailah, dengan seluruh kekuatannya menggerakkan semua makhluk yang di berikan Allah sebagai mukjizatnya, Sulaiman memerintahkan jin, binatang, manusia dan seluruh mahluk yang ada di bumi mengumpulkan makanan dan memasak untuk hidangan seluruh makhluk bumi.

Singkat kisah, Sulaiman berhasil menyediakan makanan untuk seluruh makhluk bumi. Hidangan itu dikumpulkan dipasang yang tak berujung, tersajilah hidangansepjang perjalanan sebulan penuh.

Setelah siap, saatnya Sulaiman memanggil siapa yang akan memnjadi makhluk pertama yang akan menikmati hidangan itu. Tapi tak seekor dan seseorangpun makhluk yang mau. Mulai dari semut, kerbau, kambing, tumbuh-tumbuhan dan semua makhluk. Hingga pada titik ketika semua menyatakan tidak mau.

Datanglah seekor ikan besar yang menyatakan dirinya siap menjadi pemakan pertama hidangan nabi Sulaiman itu. Makanpun dimulai, oleh sang ikan besar, hidangan itu habis dilumatnya. Tak tersisa sedikitpun. Sementara perutnya ia rasakan belum juga kenyang. Sang ikan meminta tambah pada Sulaiman. Dan Sulaimanpun heran, dan langsung bersujud kepada Allah “Maha suci engkau yang memberi makan seluruh makhluk bumi hingga kenyang”

Belum puas dengan itu, nabi Sulaiman bertanya pada semut. Wahai semut, berapa jatah makan-minummu selama setahun? Semut menjawab. Saya cukup dengan sebutir padi. Dan Sulaiman mengambil seekor semut itu dan memasukkannya ke dalam botol bersama sebutir padi.

Setahun kemudian, Sulaiman melihat semut dalam botol dan menyaksikan hanya setengah dari padi yang dimakannya.

Sulaiman bertanya mengapa si semut tak menghabiskan sebutir padi itu. Sang semut menjawab

“Sulaiman, karena tawakal saya kepada Allah maka saya makan sebutir biji padi dalam setahun, dan saya yakin Allah tak akan pernah melupakanku. Tapi kali ini aku tawakal kepadamu, dan aku ragu apakah engkau akan mengingatku atau tidak, sehingga kusisakan setengah jikalau engkau melupakanku, aku masih bisa makan di tahun yang akan datang”.

Sulaiman akhirnya sadar bahwa Allah itu jauh lebih kuasa dari dirinya. Memberi makan seluruh makhluk dengan caranya. Allah maha kaya, Allah maha kuasa atas segala-galanya.