Ulama itu yang Mana?
Dalam islam, kata Ulama sering didefinisikan secara berbeda oleh para penulis islam. Misalnya Ibnu Rajab mengatakan ulama itu adalah, orang-orang yang tidak menginginkan kedudukan, dan membenci segala bentuk pujian serta tidak menyombongkan diri atas seorang pun.
Adalagi yang mengatakan, ulama itu adalah orang-orang yang memiliki keahlian melakukan istinbath (mengambil hukum) dan memahaminya serta menjalankannya.
Saking luasnya pengertian ini kemudian Imam Ghazali membuat sebuah definisi yang sangat panjang tentang ulama dengan membagi ada ulama dunia dan ada ulama akhirat. Terlalu panjang jika dituliskan dalam kesempatan ini. Tapi pada intinya, Ulama erat kaitannya dengan intelektualitas, baik agama maupun umum, serta tingkat moralitas dan akhlaknya.
Namun di Indonesia sepertinya, Ulama lebih pada penamaan Sosial kultural bukan mengarah ke Ulama dalam definisi Islam itu. Sehingga terminologi Ulama ini mendapat penyederhanaan.
Ada orang disebut ulama karena orang tuanya dulu termasuk Ulama yang dikagumi. Walaupun sebenarnya kapasitas dia belum bisa menyamai bapaknya. Ada yang disebut ulama karena dikenal pintar berceramah, ya walaupun dalam membaca Al qur'an saja belum benar Tajwid dan Makhrajnya. Ada juga yang karena sehari-harinya si orang ini tampak berpakaian arab, berjubah dan bersurban. Dan ada beberapa jenis lain.
Menurut saya sangat berbeda dengan terminologi ulama yang biasa kita baca dalam kitab2 salaf. Nah Ulama yang mana yang dikatakan wartsatul ambiya' alias pewaris para Nabi? Entahlah..

