Ilmu Kok Dituntut??
Menjadi Guru Itu Pilihan. Saya memilih menjadi Guru motivasinya sederhana saja, suka berbagi pada orang lain, khususnya apa yang saya tahu. Ilmu itu relatif, mengajarkan ilmu juga relatif. Relatif karena, seseorang mengajarkan ilmunya belum tentu jadi ilmu buat orang lain yang sudah memiliki ilmu yang sama, ia akan jadi ilmu ketika didapatkan oleh orang lain yang memilikinya.
Ilmu itu ada dua, ada ilmu soal-soal dunia dan isinya, ada ilmu tentang akhirat. Keduanya sama-sama dibutuhkan manusia sehingga perlu untuk dituntut dan diajarkan.
Acapkali yang kita anggap ilmu itu hanya berupa hafalan-hafalan, tetapi sebetulnya juga adalah pengalaman-pengalaman. Yang penting sesuatu itu memiliki manfaat maka ia adalah ilmu. Adakah ilmu yang tidak betmanfaat? Ya ada, ilmu yang membawa mudharat, ilmu seperti itu tidak perlu diajarkan bahkan haram diajarkan.
Guru adalah mereka yang memiliki kemampuan/ pengalaman lebih dari seorang murid. Ketika seseorang mendapatkan informasi yang belum diketahuinya, dan informasi itu bermanfaat, maka dia sebetulnya telah mengajar. Dia mendapatkan manfaat daribpekerjaannya menginformasikan sesuatu itu kepada orang lain.
Orang yang menginformasikan itu namanya guru dan yang mendapatkan informasi itu namanya murid.
Dalam khasanah islam, ilmu dan menuntut ilmu ini wajib hukumnya. Rasulullah bersabda, "menuntut itu hukumnya wajib bagi semua laki-laki dan perempuan muslim" dalam hadist lain, dikatakan, kewajiban menuntut ilmu ini diwajibkan sejak manusia masih berada dalam kandungan sang ibu hingga ia mati berkubang tanah diliang lahat.
Mengapa wajib, sebab hampir semua perbuatan termasuk perbuatan-perbuatan ibadah, tidak akan bermakna dan tak berguna apabila tidak dilakukan dengan ilmu. Begitupun pekerjaan-pekerjaan dunia, tidak akan ada gunanya, akan sia-sia apabila tidak dilakuka dengan ilmu. Bahkan lebih dari itu, sebuah pekerjaan apapun, apabila tidak ada ilmunya maka bisa jadi akan menjadi sesuatu yang rusak, atau tidak ada manfaatnya.
Pekerjaan memasak nasi saja jika tidak dilakuka dengan ilmu maka akan rusak nasinya, menggoreng telur tidak pake ilmu akan jadi masalah.
Begitu halnya dengan ibadah, tidak punya ilmu shalat maka tak sah shalatnya, tak punya ilmu tentang puasa maka tak sah puasanya. Dan begitu seterusnya, keniscayaan, semua pekerjaan itu harus disertai dengan ilmu.
Karena kewajiban menuntut ilmu ini, maka seseorang yang memiliki ilmu wajib mengajarkannya kepada orang lain. Apabila seseorang menjadi celaka apabila ia tidak diajarkan, sementara ia sendiri sebenarnya bisa mengajar, maka ia berdosa dan allah tidak akan menyukainya. Tidak hanya allah yang tidak akan menyukainya, tapi juga manusia seluruhnya.
Sebaliknya apabila ia mengajarkan dan seseorang bisa memetik manfaat dari ilmu tersebut, maka secara langsung ia akan disukai Allah dan Manusia.
Tak heran ada sebuah hadist nabi yang mengatakan, barangsiapa yang memuluskan jalan seseorang dalam menuntut ilmu, maka Allah akan memuluskan jalannya menuju kebaikan-kebaikan.
Bahka kata rasul, orang-orang yang mengajarkan dan mencari ilmu itu akan dimintakan ampun oleh semua mahkluk yang ada dilangit dan dibumi bahkan hingga ikan-ikan yang ada dilautan.
Sebuah ujaran rasulullah yang lain kepada sahabatnya sebagai motivasi juga buat kita, hai Abu Dzar, tidaklah kamu pergi ke suatu tempat dan mengajarkan satu ilmu saja dari Al Qur'an maka akan mencatatnya lebih besar pahalanya daripada kamu shalat 100 rakaat. Dan apabila kamu pergi ke suatu tempat dengan tujuan mengajarkan orang lain ilmu dengan maksud supaya orang lain mengajarkannya, maka lebih besar pahalanya daripada kamu shalat 1000 rakaat.
Sekian saja....menulis dengan dua jempol memang tidak bisa nulis banyak-banyak.
Selamat Hari Santri 2016

