Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Susana Pilkades Di Desa Saya


ketua_lombok_blogger
Siang tadi mata saya disuguhkan spanduk besar bertuliskan “Calon Kepala Desa, Jujur dan Pekerja Keras”. Spanduk itu terasa lengkap dengan foto seseorang berbatik kotak-kotak gaya Jokowi, namanya Sudarman.  Siang tadi Sudarman Calon kepala desa itu mampir di warung saya dan saya tanya, kenapa pakai Batik Jokowi? Jawabnya sederhana “Saya bisa ikuti jejak Jokowi, sebagai penantang yang akan menang” sangat meyakinkan.

Jalan-jalan di twitter, saya temukan satu tulisan Prie GS berjudul “Nantang, menang”. Sebuah tulisan menggelitik tentang Mitt Romey, Jokowi dan Michael Dougles yang disebutnya sebagai para penantang dan saya alurkan dengan pertanyaan, apakah Sudarman akan masuk ke kelompok Nantang Menang ini dengan melihat beberapa kesamaan politik mereka? Entahlah, yang jelas, situasi poltik sementara ini, dua calon Wirame dan Haji Karim masih diunggulkan karena dua calon ini masih diyakini punya uang ketimbang Sudarman.

Tentang 3 Calon kepala Desa Kita Itu

Pertama H.L. Wirame, dia disebut-sebut calon kades yang paling kaya saat ini. Ia makelar tanah mantan pegawai RRI, isterinya saja dua, ruamahnya juga dua, sawahnya dimana-mana. Kelemahannya, dia kurang inisiatif, miskin ide, tidak komitmen, kurang social dan banyak cerita kurang enak tentang calon kita satu ini. Salah satu yang jadi cerita paling keren soal calon satu ini adalah keberaniannya menggunakan uang saat pemilihan perode lalu. Uang ratusan juta di gelontorkan untuk menang namun akhirnya kalah juga oleh calon yang gak beruang H, Mahlan, Kades sekarang. Gara-gara itu isterinya tuanya stroke dan meninggal dunia saat itu juga. Dan ceritanya, pemilihan kades perode kali ini akan berjuang dan beruang habis-habisan demi mengembalikan uangnya yang sudah habis duluan itu. Halaaaah…

Sementara H. Abdul Karim, ia mantan pegawai negeri, tidak kaya tapi lincah. Jaringannya lumayan banyak, tapi dia dikenal melak dan terlalu banyak ngomong. Kisah menor dan kurang menarik tentangnya juga bertebaran sejak ia masih muda dulu. Calon kades satu ini sering disebut-sebut bergaya hidup Robin Hood. Merampok Orang kaya untuk dibagi-bagikan ke orang-orang miskin. Persisnya, dia menjadi tukang palak di beberapa instansi di NTB tapi tak d makannya sendiri, namun dibagi-bagikan ke orang-orang kampung. Baikkah, ya warga juga yang menilai. Satu yang kurang di sukai oleh warga dari calon kita yang satu ini, dia berkarakter agak sombong dan sok serta sifatnya yang keras dan mau menang sendiri.

Calon yang ketiga yang saya sebut di paragraph pertama tadi, Sudarman tokoh pemuda yang sederhana. Ia mengaku hanya coba-coba di pilkades ini. Kiprahnya di desa juga tak terlalu banyak selain pernah menjabat Ketua PNPM Generasi selama satu periode. Ia di besarkan oleh H Mahlan, kepala desa yang sekarang karena keuletannya bekerja.

Kelemahannya, tak banyak masyarakat yang tau dia. Karena disamping muda, juga kurang akrab dengan orang-orang tua. Jadi cerita tentang sudarman di dominasi tentang cerita anak muda yang nakal. Cerita sumbang yang lain kasus PNPM ketika pentalutan jalan antara Paok Dandak dan berahale yang sempat bermasalah hingga di demo warga, kala itu proyek-proyek PNPM yang dikelolanya dinilai kurang transparan dan seterusnya.

Yang berbeda dari dua calon sebelumnya terletak pada kata kunci “Penantang” dan “Juara Bertahan”. Dua calon lainnya saya anggap Juara Bertahan karena sejak lama sudah mereka berkampanye bahkan menanam jasa-jasa politik ke masyarakat, sementara Sudarman tidak, ia munul belakangan sebagai penantang baru yang bergerak diam-diam.

Beginilah suasana pilkades Durian Perode ini, tapi seperti pengakuan banyak orang, kondisi politik itu berubah setiap saat mengikuti detik jam. Kita lihat saja, 3 calon ini siapa yang akan menang nantinya. Apakah Sudarman akan mamsuk kategori analisis Prie GS sebagai si penantang yang menang? entahlah….kita lihat saja nanti ya…