Puasa yang Menyederhanakan

Anda mungkin salah seorang yang juga pernah mendengar penjelasan tentang pengkategorikan tingkatan puasa, ada puasa Aam, Puasa Khawas, Puasa Khawas Bil Khawas. Puasa Aam itu, puasa yang dilakukan hanya dengan menahan diri dari makan dan minum dan segala hal yang membatalkan puasa. Puasa seperti ini kata guru saya, puasanya orang seperti kita-kita yang pemula (Basic) dalam beragama.
Lalu, istilah kedua, Puasa Khawas, puasa khusus bagi mereka yang tidak hanya menahan diri dari makan dan minum. Tapi, lebih dari itu ia bisa seluruh anggota badannya dari perbuatan dosa. Puasa-puasa begini kata guru saya hanya bisa dilakukan para ulama, para tuan guru dan orang-orang yang tingkat kesolehannya sangat tinggi.
Yang terakhir, puasa khawas bil khawas, nah, puasa yang ini jauh melintasi puasa dalam dua kategori sebelumnya, karena selain menahan makan minum, menahan anggota badan dari perbuatan dosa, juga menahan nafsu yang terbenam dilubuk hati untuk iri, dengki, sombong, berburuk sangka, tidak jujur dan sebagainya. Lagi-lagi kata guru saya, puasa yang begini hanya khusus untuk para wali, para nabi dan rasul.
Tiga kategori puasa ini adalah pendapatnya Imam Alghazali yang disebutkannya dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, sebuah kitab bertema Fiqh dan Tasawuf yang nyaris wajib di pelajari di pesantren-pesantren Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Dalam kitab-kitab fiqh klasik, tema ini samasekali tak dibahas. Sehingga para ustad kerapkali alpa menjelaskan apa esensi pesan dari penjelasan ini? Apa Siapa dan darimana pendapat ini dikutip?. Yang terjadi pada akhirnya, para santri (khususnya saya sih!) menelan penjelasan ini secara mentah, tak sedikit teman yang bahkan nganggap ini hadist.
Apa akibatnya, sebagian ummat islam secara psikologis menjadi abai terhadap agungnya perintah puasa. Persisnya menyederhanakan makna puasa gara-gara pengkategorian ini. Kenapa menyederhanakan? Karena, logika yang dibangun dalam pernyataan itu mengikutsertakan cirri bahkan menyebut kelompok orang secara langsung. Artinya 3 pilihan yang absah. Saya saja misalnya akan berfikir, karena saya orang awam cukup berpuasa awam saja lah, karena saya kan bukan Ulama, Bukan Wali apalagi Rasul. (Maaf, ya, apakah logika ini keliru. Mohon di luruskan!) begitu kira-kira.
Lebih sial lagi, dengan model berfikir begini. Kita lalu menganggap bahwa lebih besar dosanya makan sepiring siang hari bulan ramadhan daripada mengumpat orang di jalanan. Lebih berdosa seseorang menahan minum segelas Jus daripada dengki, sombong, melawan orang tua, dan pekerjaan-pekerjaan buruk lainnya. (Yang ini juga maaf, apakah logika ini keliru?. Mohon di luruskan!), begitu kira-kira.
Sekali lagi ini menyederhanakan esensi puasa sesungguhnya. Apa esensial tuhan memerintahkan kita puasa? Mari liat perintah ini di Surah Al-Baqarah ayat 183 Artinya begini, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa. …. (QS Al-Baqarah: 183). Tujuan puasa itu adalah agar kita bertakwa. Goal atau esensinya “la allakum tattaqun”. Lalu apa itu takwa? Mengutip Dr. Qurays Syihab di Tafsir Al Mishbah, istilah ini digunakan oleh Alquran untuk menggambarkan “dima ul khair” (himpuan segala macam kebajikan). Segala kebaikan, tentu saja semua kita punya perspektif yang sama tentang kebaikan, bahkan semua agama. Kebaikan itu sangat universal.
Sehingga menurut saya, akan lebih baik jika kita memaknai puasa pada kategori Khawas Bil Khawas, kategori ketiga menurut Al Ghazali itu. Puasa yang benar-benar, tak sekadar menahan diri dari makan minum tapi juga menjaga semua anggota badan dari perbiatan dosa serta hati kita bersih dari iri, dengki, sombong, buruk sangka dan penyakit-penyakit hati lainnya.
Disinilah, saya kira para ustad dan tuan guru seharusnya menjelaskan hal ini lebih dalam karena saya melihatnya, dalam Al Ghazali menjelaskan shaum lebih ke tendesi filosofis, wilayah tasawuf, samasekali bukan fiqh.
Dalam tradisi keilmuan pesantren kita, memang ini sebuah kelemahan yang cukup mendasar. Bahwa teks-teks kitab fiqh seringkali didedahkan begitu saja tanpa sedikitpun melirik dimensi berbeda. Atau memunculkan sebuah pertanyaan mengapa?. Mengapa pengarang kitab fiqh itu bilang begitu? Apa alasannya? Logis tidak?. Ya mudahnya, Beyond The Fiqh lah, melampaui fiqh? Kira-kira begitu.
Akhirnya, akibat dari kecenderung kecenderungan ini, kita ummat islam kerapkali menganggap kesolehan itu hanya sekumpulan ibadah-ibadah mahdlah seperti solat, puasa, haji dan seterusnya. Dan menapikan perilaku buruk kita, yang kita lakukan dengan anggota badan kita juga hati kita. Sehingga, seakan-akan lebih kafir orang yang meninggalkan solat daripada mereka yang menghardik orang tuanya, lebih dosa orang yang tak berpuasa daripada orang suka menggunjing, berohong, mencuri dan seterusnya. Saya kira terpaku pada pemaknaan-pemaknaan ibadah sebatas fiqhiyah dan enggan melintasi fiqh akan berakibat pada semakin miskinnya intelektualitas islam. Dan kitab-kitab fiqh itu menjadi sampah yang tak berdaya
Mari perbaiki kualitas iman kita, semoga kasih, rahmat dan ridho-Nya menyertai kita di Bulan Ramadhan ini dan seterusnya. Amin.
Disebuah tempat di Mataram, 25 Juli 2012
