Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Mau sukses beranilah bermimpi

Apakah sama mimpi dengan cita-cita? Seorang siswi saya bertanya. Saya menjawabnya diplomatis, tergantung kita memaknainya dik. Bagi saya, mimpi bisa jadi sama dengan cita-cita jika dimaknai sebagai sebuah harapan. Tapi bisa juga berbeda, karena cita-cita lebih dekat dengan harapan-harapan kecil yang terserak sementara mimpi adalah harapan-harapan besar yang mengggunung dan cenderung imajiner.

Bisa Contohkan? Katanya lagi. Semua teman-temanmu yang sekolah di SMK Islam Sirajul Huda ini memiliki harapan-harapan ketika mulai bersekolah disini. Ada teman-temanmu yang punya harapan kecil berupa keinginan memperoleh ijazah lalu mendapatkan pekerjaan. Tapi tak sedikit yang punya harapan besar, misalnya ingin memiliki usaha yang bisa mempekerjakan ratusan orang di desa, ingin melanjutkan sekolah hingga bisa memproduksi mobil esemka kayak anak-anak SMKN di Solo atau bahkan ingin mengubah pasar tradisional di desanya menjadi pasar modern seperti Mall dan Supermarket di kota. Teman-temanmu yang mempunyai harapan-harapan besar seperti itu seringkali disebut bermimpi.

Bagi sebagian orang, bermimpi seperti ini sering di olok-olok dan di cemo’oh. Padahal mimpi itu adalah harapan besar dan harapan besar itu adalah “visi”. Seseorang yang tak punya mimpi besar berarti seseorang yang tak punya visi dalam hidupnya. Seorang pengusaha kalau tidak punya mimpi, maka dia pengusaha yang tak punya visi. Saya kira begitu pula dengan pemimpin, ilmuwan, Dokter, guru dan profesi yang lain, manakala mereka tak punya mimpi, artinya mereka tak punya visi.

Lalu untuk apakah visi itu kak? Visi adalah penunjuk arah. Visilah yang membuat seorang pemimpin mengetahui kemana arah ia memimpin, sang pengusaha akan mengerti kemana usahanya akan dikembangkan dan seterusnya. Visilah yang menjadi peta mereka menjalankan aktifitasnya sehingga ketika ia dilanda kegagalan maka ia akan kembali ke visi awalnya. Kembali ke jalur yang ia memuat harapan-harapan besarnya itu.

Dik, banyak orang mengatakan kepadamu, “Jangan Bermimpi terlalu tinggi, kalo gagal, sakit sekali rasanya!”, itu kata-kata yang kurang tepat bahkan keliru menurutku. Sebaliknya, harusnya kamu berani bermimpi setinggi apapun. Karena mimpi adalah harapan-harapan besar yang menjadi visi, arah hidupmu. Ir. Soekarno sang proklamator kita itu pernah bilang, “Gantungkan cita-citamu setinggi langit!” –yang ia maksudkan adalah cita-citamu yang harus besar dan tinggi. Kata seorang motivator bisnis, kalo sudah kita gantungkan cita-cita setinggi langit, paling kalo jatuh masih nyangkut di tiang listrik. Lumayan kan, masih tinggi, daripada langsung nyungsep ke lobang sumur. Nah….

Kadang, orang takut menyebut diri sebagai pemimpi. Bagi saya, sebaliknya dik, ini sesuatu yang membanggakan. Menjadi pemimpi adalah menjadi orang-orang yang punya harapan-harapan besar. Menjadi pemimpi adalah menjadi orang-orang yang selalu dibanggakan terutama setelah mimpi mereka dapat mereka wujudkan.

Barangkali kau perlu membaca kisah sukses Bill Gates yang dulunya ditertawai banyak orang karena bermimpi setiap rumah penduduk di seluruh dunia terdapat satu perangkat komputer yang didalamnya ada Produk Microsoft. Dan lihatlah sekarang mimpi itu menjadi nyata, nyaris setiap rumah ada komputer bahkan sangat mungkin5 atau 10 tahun kedepan, satu orang satu komputer. Lalu siapa yang berani menertawainya sekarang? Gak ada bukan? Maka bangunlah mimpimu sebesar dan setinggi-tingginya, karena seorang yang ingin sukses pasti punya mimpi. Jangan takut bermimpi, karena pertama mimpi itu gak bayar kedua mimpi itu resikonya positif, menjadi orang-orang besar dan bermanfaat untuk orang lain. Camkanlah![]