Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Sekolah Gratis, Mungkinkah, Mungkinkah? [Read By Slank Version]

Beberapa kawan lama saya pada pertengahan september tahun lalu kabarnya ngumpul-ngumpul lagi (setelah sekian lama tak bersua tentu saja hehe) dan merealisasikan sebuah gagasan yang bagus , mendirikan sebuah lembaga bimbingan belajar Gratis untuk siswa-siswi di Mataram. Karena lembaga ini benar-benar diiktiarkan Gratis saya jadi meragu atas keberlangsungannya. Saya jadi penasaran bertanya ke mereka. Bagaimana sistem pendanaannya?.

Dengan cara berfikir lama (Maksud saya ketika masih mahasiswa doeloe..! hehe) saya dijawabnya idealis saja. "Kita berjuang untuk rakyat" Katanya saat itu. Salah satu cara mendanainya akan di upayakan melalui proposal dan beberapa usaha lain yang bisa di kaitkan dengan lembaga ini seperti usaha foto copy atau lainnya.

Sampai disini, cerita berikutnya adalah. Seminggu setelah pertemuan itu brosur penerimaan Siswa Barupun di sebar. Beberapa kawan yang punya background pendidikanpun segera direkrut menjadi tenaga pengajar. (Catatanya, prasyarat mereka mau ikut berjuang secara ikhlas dan sosialis). Setelah itu tempat dan segala peralatan juga disiapkan. Berjalanlah lembaga ini.

Beberapa siswa sudah mulai mendaftar. Diantaranya ada yang berharap banyak dan yakin bisa bersinergi dengan lembaga bikinan anak-anak muda kreatif (kere tapi selalu aktif heehe sori ton) dan peserta yang lain ada yang bersikap ragu-ragu dan setengah hati mendaftar.

Dengan segala keterbatasan, seminggu, dua minggu, tiga minggu bimbel ini bisa dikatakan jalan. Tapi minggu-minggu setelahnya, beberapa gurunya mulai malas-malasan karena mungkin motivasi keikhlasan itu lama-lama hilang. Siswa jadi keseringan tak belajar. Dan Bisa diprediksa minggu-minggu setelahnya, siswa yang kini giliran malas karena merasa rugi datang tapi tak ada yang mengajar. Akhirnya, suatu hari, beberapa siswa yang kebetulan satu sekolah meminta para pengajarnya agar yang mendatangi mereka ke sekolah. Sampai disini ceritanya PAUSE.

Sayapun inget, Saudara Aksar Ansory (Salah Seorang anggota KPU NTB Kini) pernah menulis di Forum Pendidikan NTB Facebook .

Sekolah dan kampus adalah kapitalisme pendidikan yang licik dan tidak bertanggung jawab..katanya. Lalu berbagai macam komentar menanggapinya. Salah satunya Semeton Jen yang bertanya argumentasi dari pernyataan itu. Aksar menjawab dengan sangat bagus.


Paulo Preire adalah salah satu pakar pendidikan praksis yang menyimpulkan seperti itu. Maksudnya dah jelas, pendidikan itu mahal, pendidikan itu bisnis. Orang miskin tdk bisa sekolah kalo mahal. Yang lain, pendidikan bermutu harus mahal. Kalau pendidikannya murah apalagi gratis, apa bisa bermutu? Kalau tdk punya capital, apa bisa sekolah Lawannya tentu saja Pendidikan Gratis dan Bermutu Utk Orang Miskin, Pendidikan Pro Poor, Pendidikan utk semua.. Kalo ngga terwujud yg terakhir, ya kapitalis lah..

Melihat kodisi teman-teman yang saya ceritakan sejak awal tulisan ini, saya sedikit meragu dengan beberapa komentar yang saya tuliskan sendiri di forum facebook itu. Saya disitu men-counter wacana “Pendidikan Tetap Kapitalis” dengan menghadirkan realitas bahwa di sekolah saya, pendidikan tidak kapitalis (bener-bener gratis) dengan modal sokongan partisipasi masyarakat dan sedikit perhatian pemerintah melalui proposal.

Tanpaknya, memang, pendidikan gratis akan menemu ba
nyak kendala seperti ini. Jangan singgung soal kualitas. Kita singgung disini soal keberlanjutan, masa depan pendidikan gratis yang kita mau adakan itu. Ada sedikit yang membedakan ikhtiar teman-teman dengan iktiar saya membangun lembaga pendidikan di rumah yakni pada dukungan dan partisipasi masyarakat yang sangat besar.

Mhn maaf saya capek nulis nanti saya dilanjutkan…