Catatan Sebelum Tidur (1):Detik-Detik Lahirnya NU
Nahdlatul Ulama (NU) sebuah organisasi yang –saya percaya baik riil maupun statistik-saat ini mempunyai anggota terbesar di-indonesia berdiri tahun 1926. Dua latar sejarah yang menjadikan organisasi ini berdiri. Pertama, adalah mengimbangi Komite Khilafat (utusan Indonesia) yang pelan-pelan jatuh ketangan para pembaharui utamanya dari Muhammadiyah dan Persis. Kedua, sebagai media utama untuk menyerukan kepada penguasa baru di tanah arab, Ibn Sa’ud agar tetap menjaga cara beragama berbasis tradisi.Komite Khilafat muncul pasca berkecamuknya perang di Turki antara Sultan Turki Daulat Ustamani dengan pimpinan nasionalis Turki Mustafa Kamal. Kesultanan Turki bagi ummat islam seluruh dunia saat itu -termasuk indonesia- masih dipandang sebagai terusan khilafah setelah Abbasyiah dan Muawiyah. Karenanya, persoalan siapa yang akan menjadi khalifah selanjutnya pasca Daulat Utsmani menjadi perdebatan serius.
Tahun 1922, Majelis Raya Turki menggelar majelis kongres yang berencana menghapus kesultanan Turki dan menggantikannya dengan sistem Republik. Maka pada 4 Oktober 1924, diputuskan kaum muslimin indonesia di Surabaya untuk membentuk Komite Khilafat Indonesia. Komite inilah yang akan ditugaskan untuk berangkat sebagai delegasi dalam Komite Khilafat Internasional di Turki.
Hasil rapat komite di surabaya awalnya memutuskan 3 nama yang akan menjadi delegasi yakni, Surdjopranoto (Sarekat Islam), Haji Fachruddin (Muhammadiyah) dan KH. Wahab Hasbullah dari kalangan Tradisi (kala itu belum ada NU). Namun sebab perang masih berkecamuk di Hijaz, dan di kahwatirkan akan mengganggu perjalanan utusan dari makkah ke kairo, kongres itupun ditunda. Dan 3 orang tersebut urung berangkat.
Perkembangan selanjutnya, pada tahun 1924, Ibnu Saud (penguasa yang beraliran wahabi) berhasil mengusir Syarif Husein dari Makkah yang belariran Sunni. Akhirnya, karena Makkah dikuasai Wahabi, seluruh dataran arab segera dibersihkan dari praktek-praktek keagamaan yang dianggap madzhab ini menyimpang (bid’ah) termasuk munculnya kebijakan Raja Sa’ud yang akan menghancurkan makam Nabi Muhammad di Madinah.
Persoalan ini memunculkan polemik hingga ke Indonesia. Komite Khilafat Indonesia kemudian mengadakan kongres kembali pada 21-27 Agustus 1925 dan di bandung Jawa Barat pada 6 Februari 1926. Kedua kongres ini berlangsung nyaris didominasi oleh suara-suara kelompok pembaharu terutama Muhammadiyah, Persis dan Al irsyad. Malah pada rapat dibandung secara diam-diam telah diputuskan, yang akan diberangkatkan ke Makkah untuk megikuti Komite Khilafat yang saat itu sudah berubah nama menjadi Komite Hijaz adalah Tjokroaminoto dari SI dan Haji Muhammad Masyur dari Muhammadiyah. Saat itu, K.H. A. Wahab Hasbullah sebagai kelompok tradisional mengusulkan beberapa hal salah satunya tetap menjaga tradisi dalam beragama termasuk ziarah kubur, talqin dan mengamalkan doa Dhlail Al Khairat. Namun sontak semua usul KH. Wahab ditolak mentah-mentah.
Dari sinilah, KH. Wahab Hasbullah kemudian pulang ke surabaya dan mengadakan rapat dengan ulama-ulama sepuh di Jawa Timur pada tanggal 31 januari 1926. Pada saat itulah terbentuk Komite Tandingan yang langsung dinamakan Komite Hijaz. Nah komite inilah yang nantinya berubah nama menjadi Nahdlatul Ulama….[bersambung ya…capek ngetik!]
