Revolusi di Negeri Para Nabi
Geliat revolusi di negeri-negeri arab terus bergolak. Tunisia, Sudan, Yaman dan Mesir mulai membuka mata bahwa Demokrasi dan HAM demikian penting dan mahal adanya. Sejatinya, tak satupun manusia mana yang tahan kebebasannya dirampas, apalagi dengan justifikasi doktrin-doktrin agama yang menindas, sementara disaat yang sama mereka menyaksikan kemiskinan, korupsi dan kolonialisasi begitu meraja?
Ada beberapa hal yang menarik dikomentari dalam revolusi di negeri-negara para nabi itu. Pertama, berubahnya sistem transisi kekuasaan –yang sedari jaman behula hanya bisa dilakukan dengan cara perseteruan dinasti (keturunan)- ke arah transisi kekuasaan yang terbuka dan demokratis. Yang menggembirakan lagi adalah, proses transisi tidak terjadi berkat mengerasnya ideologi atau kuatnya patronase seorang tokoh seperti yang terjadi dalam revolusi Iran, melainkan terjadi akibat menguatnya kesadaran rakyat yang ingin segera merdeka dari ketertindasan dan kebelet merasai kebebasan.
Kedua, Terpatahkannya anggapan negara-negara barat bahwa demokrasi di negara-negara Islam tak mungkin terpraktikkan. Selama ini, di seminar dan penelitian, Indonesia kerap dianggap gagal sebagai contoh demokrasi yang bisa berjalan dalam masyarakat muslim. Sebabnya, Indonesia bagi mereka bukan Negara Islam murni seperti Arab tapi Negara yang telah plural lebih dahulu bahkan sekuler. Namun munculnya angin segar reformasi di Mesir, Sudan, Yaman dan Tunisia sekarang ini nyata-nyata membantah, bahwa demokrasi memang benar-benar compatible dengan islam.
Ketiga, Amerika tak mungkin lagi beralasan, demokrasi di hanya bisa dipaksakan di Negara-negara islam otoritarian sehingga merasa perlu melakukan invansi seperti di Irak dan Afganistan. Tapi, demokratisasi sebetulnya bisa berjalan sendiri seperti yang terjadi di Tunisia dan Mesir sekarang. Ini nyambung dengan teori Mark, bahwa kesadaran kaum proletar sedikit demi sedikit akan bangkit dengan ketertindasannya ketika kaum borjuis mencapkan kukunya semakin dalam dan meluas. Dengan bahasa lain, demokrasi dengan caranya akan terjadi secara alamiah sehingga Negara-negara yang belum demokratis bisa dengan mandiri melakukannya.
Saya Bangga dengan rakyat di negara-negara Timur Tengah utamanya Tunisa, Mesir, Sudah dan Yaman. Pertanyaan sekarang, mungkinkah revolusi ini juga menjalar ke Arab Saudi? Saudi sudah terlalu lama dikuasai segelintir orang dan menjual kepala rakyatnya demi petro dolar ke Amerika. Kita tunggu saja![]
Ada beberapa hal yang menarik dikomentari dalam revolusi di negeri-negara para nabi itu. Pertama, berubahnya sistem transisi kekuasaan –yang sedari jaman behula hanya bisa dilakukan dengan cara perseteruan dinasti (keturunan)- ke arah transisi kekuasaan yang terbuka dan demokratis. Yang menggembirakan lagi adalah, proses transisi tidak terjadi berkat mengerasnya ideologi atau kuatnya patronase seorang tokoh seperti yang terjadi dalam revolusi Iran, melainkan terjadi akibat menguatnya kesadaran rakyat yang ingin segera merdeka dari ketertindasan dan kebelet merasai kebebasan.
Kedua, Terpatahkannya anggapan negara-negara barat bahwa demokrasi di negara-negara Islam tak mungkin terpraktikkan. Selama ini, di seminar dan penelitian, Indonesia kerap dianggap gagal sebagai contoh demokrasi yang bisa berjalan dalam masyarakat muslim. Sebabnya, Indonesia bagi mereka bukan Negara Islam murni seperti Arab tapi Negara yang telah plural lebih dahulu bahkan sekuler. Namun munculnya angin segar reformasi di Mesir, Sudan, Yaman dan Tunisia sekarang ini nyata-nyata membantah, bahwa demokrasi memang benar-benar compatible dengan islam.
Ketiga, Amerika tak mungkin lagi beralasan, demokrasi di hanya bisa dipaksakan di Negara-negara islam otoritarian sehingga merasa perlu melakukan invansi seperti di Irak dan Afganistan. Tapi, demokratisasi sebetulnya bisa berjalan sendiri seperti yang terjadi di Tunisia dan Mesir sekarang. Ini nyambung dengan teori Mark, bahwa kesadaran kaum proletar sedikit demi sedikit akan bangkit dengan ketertindasannya ketika kaum borjuis mencapkan kukunya semakin dalam dan meluas. Dengan bahasa lain, demokrasi dengan caranya akan terjadi secara alamiah sehingga Negara-negara yang belum demokratis bisa dengan mandiri melakukannya.
Saya Bangga dengan rakyat di negara-negara Timur Tengah utamanya Tunisa, Mesir, Sudah dan Yaman. Pertanyaan sekarang, mungkinkah revolusi ini juga menjalar ke Arab Saudi? Saudi sudah terlalu lama dikuasai segelintir orang dan menjual kepala rakyatnya demi petro dolar ke Amerika. Kita tunggu saja![]

