Ber”maaf”an Dengan Alam
Momen idul fitri ini hendaknya kita manfaatkan tidak hanya untuk saling memaafkan kepada teman, saudara, orang tua, tetapi harusnya juga kita saling memaafkan dengan semesta, kepada alam, kepada tanah, kepada air, kepada hutan dan juga pada lautan.Seperti dosa kita yang bertabur kepada manusia melalui sifat dengki, sombong, angkuh, suka menggunjing, merasai orang, dosa kepada alam juga kita kalah banyaknya. Pohon-pohon yang kita tebangi dan menyebabkan hutan-hutan plontos, tanah yang kita eksploitasi terus-terusan hingga bolong dan longsor, air yang kita paksa mengikuti nafsu sehingga meluap, lautan yang kita racuni hingga hewan dan biota laut sekarat, semua itu adalah dosa-dosa terbesar kita. Kita tak sadar, mereka adalah makhluk tuhan yang mestinya kita manfaatkan dengan baik bukan sebaliknya menjadikan mereka objek penderita untuk menyenangkan kehidupan duniawi kita.
Yuk kita refleksi, fenomena bencana yang terus menerus berulang, gempa dan tsunami di aceh, Jogja, padang dan banyak daerah lain di Indonesia. Longsor Situgintung, Jawa Barat dan banyak lagi, lumpur lapindo yang meledak hingga sekarang belum jua bisa kita atasi. Karena apa semua fenomena itu?
Seseorang di sebuah situs di internet melemparkan pernyataan yang mendapatkan tanggapan super sibuk, kenapa tuhan begitu tega menggulung ratusan ribu rakyat aceh pada saat tsunami? Adakah itu adzab ataukah ujianNya? Dimana letak kasih-sayang tuhan disitu? Dan seorang ustadpun mengobati hati para keluarga korban. “Bersabarlah, bencana itu adalah takdir, allah mengatakan “kun” maka apapun terjadi atas kehendaknya”. Jangan protes!.
Jangan protes?
What up?? Aku harus protes tak boleh dilarang, karena aku bebas bicara. Aku yakin sekali, takdir tak akan diberikan tuhan jika manusia tak meng”ompori”nya sehingga takdir itu menjadi kenyataan. Saya percaya bencana terjadi bukan soal takdir, tapi soal bagaimana manusia memperlakukan alam. Seperti halnya manusia kepada manusia yang lain, alam ini juga bisa marah jika diperlakukan semena-mena. Bencana adalah bentuk kemarahan alam kepada manusia yang paling nyata.
Saya mengajak anda bertafakkur, seberapa banyak dosa yang telah kita lakukan pada alam. Coba di ingat-ingat dan mari kita meminta maaf pada alam di hari raya idul fitri ini.
Saya teringat pesan almarhum papuk tuan saya 28 tahun yang silam. Kata beliau, semua mahluk hidup di muka bumi ini harus diberi kasih sayang supaya mereka membalas kita dengan kasih sayang pula. Jika kita aniaya mereka, maka merekapun tak enggan menganiaya kita. Karenanya, beberapa pohon kelapa yang kami tanam di halaman rumah semasa nenek masih hidup selalu kami sayang-sayang. Dan memang terbukti, beberapa pohon yang kami beri kasih sayang (diurusi, disirami, di potong dengan rapi dst) ternyata tumbuh dengan subur dan gemuk-gemuk. Sementara yang tak di sayang tumbuh kurus-kurus kayak tubuh saya hehe.
Masih kata papuk tuan, begitu pula pada binatang peliharaan seperti sapi dan ayam. Pertumbuhan mereka akan sangat dipengaruhi pemberian kasih sayang dari pemiliknya. Sapi atau ayam yang diberi perhatian lebih akan lebih cepat besar dan gemuk-gemuk sementara yang tak terurus pasti sebaliknya. Dari situlah ternyata saya menemukan titik temu sebuah petuah orang tua yang bilang “lamun pade mangan dendek girang ade’an nasik laun mate manukm / kalo makan jangan suka meninggalkan sisa nasi, nanti ayammu mati”.
Hmm...begitulah. Dihari yang penuh kasih sayang dan maaf-maafan ini. Saya mengajak anda untuk bermaaf-maafan tak hanya dengan manusia tapi juga hendakanya dengan alam. Semoga alam memaafkan dan tak terus-terusan memarahi kita.
[Tulisan, murni terinspirasi lagu “Berita Kepada Kawan” Ebiet G Ade]
Rumahku, 10 September 2010
17:24
Perjalanan ini terasa sangat menyedihkan Sayang, engkau tak duduk di sampingku kawan Banyak cerita yang mestinya kau saksikan Di tanah kering berbatuan
Tubuh ku terguncang di hempas batu jalanan Hati tergetar menampak kering rerumputan Perjalan ini pun seperti jadi saksi Gembala kecil menangis sedih
Kawan coba dengar apa jawabnya Ketika ia ku tanya "Mengapa?" Bapak ibunya telah lama mati Ditelan bencana tanah ini
Sesampainya di laut ku khabarkan semuanya Kepada karang, kepada ombak, kepada matahari Tetapi semua diam, tetapi semua bisu Tinggal aku sendiri terpaku menatap langit
Barangkali di sana ada jawabnya Mengapa di tanahku terjadi bencana
Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang
