Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Totaliter atau Totalitas

Seorang kawan pendapat, sebuah kekuasaan akan menjadi efektif jika dikelola dengan pemerintahan yang totaliter. Totaliter dalam relasi kuasa bernada negatif sebagai sebuah citra pemerintahan yang dikuasai secara total dari atas hingga bawah, dari pusat hingga pinggiran.

Berbeda makna dengan Totalitas. Totalitas lebih bernada positif, sebuah praktik pemerintah, (khususnya) program-program pemerintahan yang secara total atau sempurna di praktikkan hingga sekecil-kecilnya. Misal, pemerintah totalitas memperjuangkan pendidikan gratis dan kesehatan gratis dapat di interpretasi, pendidikan dan kesehatan gratis tak hanya sebatas rencana atau wacana tapi benar-benar nyata dinikmati masyarakat.

Yang banyak terjadi di dunia adalah adalah pemerintahan yang totaliter. Sebuah pemerintahan yang –seperti saya katakan diawal- menguasai struktur secara total dan tak memberi ruang buat kelompok atau komunitas lain untuk ambil bagian dalam kekuasaan.

Model kepemimpinan totaliter seperti ini biasanya mengandalkan tipikal kepemimpinan yang nepotistik, mengisi struktur dengan individu-individu atas dasar pertimbangan pragmatisme kekeluargaan, organisasi atau kelompok. Sehingga yang terjadi adalah nepotisme.

Kepemimpinan gaya begini amat berbahaya. Karena saudara kembar dari Nepotisme adalah korupsi. John Emerich Edward Dalberg Acton atau yang sering ditulis Lord Acton mengatakan, setiap kekuasaan, cenderung korup (power tends to corrupt). Dan kekuasaan yang korup itu punya kecenderungan untuk memonopoli dan diupayakan absolut (Absolute Power Tend To Absolutelly). Saya melihat gejala seperti ini sedang terjadi disekitar kita.[]