Dibalik Pemborongan Majalah Tempo
Aksi pemborongan majalah tempo edisi 28 Juni-4 Juli berjudul 'Rekening Gendut Perwira Polisi' menjadi headline surat kabar dan televisi hari ini. Kabarnya, di Jakarta dan Bogor majalah yang dikenal ‘gemar’ investigasi ini diborong orang berpakaian safari dan polisi. Akibat pemberitaan ini, opini yang berkembang, polisilah yang memborong majalah itu karena didalamnya berisi liputan tentang kebobrokan institusi itu.Saya belum membaca apa isi majalah itu, namun sinyal adanya kasus korupsi yang terjadi di institusi polri sudah jauh-jauh hari dibicarakan Corruption Watch (ICW). ICW menyebutkan Polri diduga memetieskan sekitar 20 kasus korupsi yang masuk ke Mabes Polri. Diantara kasus-kasus itu terdapat kasus korupsi BNI yang diduga melibatkan Trunojoyo 1 (Kapolri), dan kasus pengadaan jaringan komunikasi (jarkom) dan alat komunikasi (alkom) Mabes Polri senilai Rp 240 miliar. (http://tribunnews.com)
Selain korupsi nyata itu, ICW juga mempublikasikan fenomena "tebang pilih", mengejar kuantitas mengabaikan kualitas, dan budaya menangkap "ustadz" melepas "maling" masih menangungi para anggota Polri dalam menyidik kasus korupsi.
Tak hanya itu, ICW juga mengindikasikan adanya intimidasi dari Polri terhadap pihak-pihak yang mengawasi kinerjanya atau bahkan hingga membongkar borok kinerja mereka dalam penanganan kasus korupsi seperti yang dilakukan terhadap mantan Kabareskrim Polri, Komjen Pol Susno Duadji.
Andai berita itu benar, sebegitu bodohkan polisi sehingga melakukan pemborongan majalah tempo persis seperti gaya-gaya yang kerap ‘dulu’ digunakan orde baru?. Bodoh karena dengan memborong semua majalah itu, tentu saja akan menstimulasi aksi penasaran banyak orang tentang isi majalah itu.
Atau sebaliknya, tidakkah ini politik media saja untuk melariskan majalah tersebut? Atau memang ini strategi besar untuk membongkar jaringan korupsi Polri hingga ke akar-akranya? Entahlah manakah yang benar.
Kabar terakhir dari detik, pihak tempo akan mencetak ulang majalah tersebut sebanyak 150 ribu eksamplar dan di lempar lagi kepasar. Mari kita liat apa yang akan terjadi di hari-hari berikutnya. [beragam sumber]
