Early Warning Dari Rumah dan Sekolah
Seorang pria kurus bertemu dengan seorang pria yang sangat gendut di lobi hotel. Si pria gendut bertanya "Dari tampangmu nampaknya kamu berasal dari daerah yang mengalami bencana kelaparana ya?""Ya, benar," jawab kurus, "Dan dari tampangmu, mungkin kamulah penyebab terjadinya bencana kelaparan itu."
Hmm..humor ‘genit’ ini saya petik setahun yang lalu dari sebuah situs humor yang saya lupa alamatnya. Saya tak sengaja menemukan filenya terselip di laptop saya. Membacanya ulang disaat saudara-saudara kita diguncang gempa lagi di Padang Sumatera Barat membuat saya senyum-senyum sendiri. Mungkin benar, karena penghuni bangsa ini terlalu banyak berbuat dosa sehingga di Adzab bencana sedemikian rupa.
Hmmm. .. ini asumsi ‘kecut’ dan pesimistis. Anak kecil akan bertanya cukup pintar, kalo begitu kenapa gak koruptor, perampok, maling, penjahat dan orang-orang pendosa saja yang mati dilindas gempa bukannya orang-orang yang –dimata kita- tidak berdosa??
Lha tu kan rasain ! terus jalan ceritanya bagaimana kalok begini?
Bencana alam seperti gempa, Tsunami atau apa kek namanya memang fenomena yang gak bisa prediksi kapan dan dimana terjadinya. Ia terjadi tanpa seorangpun tahu kecuali si-tuhan.
Apa yang bisa kita lakukan?
Baru lalu aku nonton TV. Seorang anak SMP yang selamat dalam gempa Padang itu bercerita. Saat gempa terjadi, ia langsung teringat pesan ibunya. Jika terjadi gempa maka yang dilakukan pertama kali tenang jangan lari, lihat situasi jangan panik. Pesan ibunya itu benar-benar ia lakukan saat gempa keras mengguncang.
Si anak -yang maaf aku lupa namanya-, saat gempa hebat itu terjadi tengah belajar bersama 17 temannya tepat di lantai dua gedung sebuah lembaga bimbingan belajar. Saat gempa hebat terjadi, si anak langsung menyelamatkan diri ke lantai bawah. Sementara teman-temannya masih panik dan menangis, ia telah berhasil menyelamatkan diri dihalaman sambil asyik menshot orang-orang yang berlarian panik dengan camera handphonenya. “saya refleks aja” katanya pada SCTV.
Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari cerita ini.
Satu hal, yakni pesan seorang ibu yang tertanam luarbiasa dalam jiwa anaknya. Pesan yang sesungguhnya biasa saja namun dihayati dalam anak tersebut sehingga mampu mempraktikkannya dalam kenyataan. Tenang, jangan panik, faham situasi, selamatkan diri! Adalah pesan-pesan standar. Namun, karena itu ditanampakan sejak kecil seorang ibu dan dilakukan dengan kasih sayang, anak itu menjadi luarbiasa mencenanya.
Inilah sesungguhnya yang dinamakan Early Warning. Sesuatu yang kerap diwacanakan orang namun kerap tak aplikatif. Early Warning menurut saya bukan sekadar latihan lari-lari menyelamatkan diri lalu datang regu penolong yang akan membawa obat-obatan, tandu dan lain sebagainya. Tapi Early Warning adalah peringatan dini tentang situasi bencana di rumah dan sekolah untuk anak-anak kita, diajarkan oleh orang tua dan guru, bagaimana seharusnya mereka anak-anak menyikapi situasi sulit dan sedahsyat apapun.[]
