Surat terbuka perihal Aceh dan Kepri !
Salam Pers Mahasiswa!
Saya baru saja menerima keluh kesah dari saudara Nasruddin pers mahasiswa di Aceh. Nasruddin cerita soal keinginanya membentuk PPMI di Aceh sejak lama. Ia bahkan sudah siap melaksanakan Musyawarah Kota dalam waktu dekat. Ia meyakinkan saya, ada 9 LPM di Aceh yang sudah siap bergabung dengan PPMI. Namun keinginan itu hingga hari ini belum bisa dilaksanakan karena pengurus nasional belum jua mengirimkan surat rekomendasi pembentukan PPMI di kota itu.
Menurut Nasruddin, ia dkk di Aceh sudah mengirimkan surat permohonan rekomendasi itu ke saudara fandi (sekjend) di Jember dan pernah di kirimkan dalam format JPG melalui email . Namun karena file dalam bentuk JPG itu kabur dan tak terbaca, ia minta dikirimkan lagi dalam bentuk asli dan berstempel melalui pos/tiki. Tapi sialnya hingga hari ini surat itu belum juga di kirim PPMI nasional dan kawan-kawan aceh belum bisa melaksanakan muskotnya.
Mendengar kabar ini,saya terus terang sangat geram, marah, dan jengkel dengan PPMI nasional. Kok sebegitu birokratisnya PPMI ini sehingga surat rekomendasi saja harus ditunda-tunda pengirimannya bahkan kabarnya sampai tiga bulanan lebih? Padahal, setahu saya, PPMI selama ini amat membutuhkan jaringan yang lebih banyak lagi? Saking butuhnya terhadap jaringan, semestinya tidak dimintapun, PPMI yang harus jemput bola dengan meminta bantuan LPM-LPM se-Indonesia (yang belum masuk PPMI) untuk mengadakan PPMI di prpopinsi dan kabupaten/kota mereka masing-masing? Lha ini kok sudah diminta tidak di follow up? Aneh!
Kasus Aceh ini nyaris sama dengan kasus yang dialami kawan-kawan persma di Kepulauan Riau (kepri). Kawan-kawan Kepri dengan semangatnya pengen mendirikan ppmi kota Kepri tapi ditolak mentah-mentah juga dengan alasan yang saya justru prihatin. Saudara Arman (Mantan Sekjend) bilang waktu Kongres di Mataram, karena kawan persma di Kepri itu bergerak diluar kampus sementara yang dimaksud LPM dalam AD/ART PPMI adalah organ LPM yang eksis di dalam kampus? Alasan yang konyo! Dan kental aroma birokratisnya!
Dalam kondisi PPMI yang sekarang, saya berpendapat, tak seharusnya kawan2 PPMI nasional terlalu birokratis seperti ini. Sudah saatnya kita buka diri dan berfikir bagaimana PPMI ini bisa menjadi kekuatan nasional. Yang kita butuhkan sekarang punya banyak teman untuk melakukan perjuangan bersama-sama. Jangan hanya karena persoalan sepele kemudian semangat kawan-kawan yang ingin begabung di PPMI dikandaskan dengan alasan gak jelas. Jika ini terus-terus terjadi, saya khawatir PPMI takan pernah besar, takan pernah menjadi kekuatan nasional, takan berguna untuk LPM-LPM se-Indonesia dan tentu saja yang akan diadakan setiap pertemuan nasional hanya curhat dan jalan-jalan. []
Saya baru saja menerima keluh kesah dari saudara Nasruddin pers mahasiswa di Aceh. Nasruddin cerita soal keinginanya membentuk PPMI di Aceh sejak lama. Ia bahkan sudah siap melaksanakan Musyawarah Kota dalam waktu dekat. Ia meyakinkan saya, ada 9 LPM di Aceh yang sudah siap bergabung dengan PPMI. Namun keinginan itu hingga hari ini belum bisa dilaksanakan karena pengurus nasional belum jua mengirimkan surat rekomendasi pembentukan PPMI di kota itu.
Menurut Nasruddin, ia dkk di Aceh sudah mengirimkan surat permohonan rekomendasi itu ke saudara fandi (sekjend) di Jember dan pernah di kirimkan dalam format JPG melalui email . Namun karena file dalam bentuk JPG itu kabur dan tak terbaca, ia minta dikirimkan lagi dalam bentuk asli dan berstempel melalui pos/tiki. Tapi sialnya hingga hari ini surat itu belum juga di kirim PPMI nasional dan kawan-kawan aceh belum bisa melaksanakan muskotnya.
Mendengar kabar ini,saya terus terang sangat geram, marah, dan jengkel dengan PPMI nasional. Kok sebegitu birokratisnya PPMI ini sehingga surat rekomendasi saja harus ditunda-tunda pengirimannya bahkan kabarnya sampai tiga bulanan lebih? Padahal, setahu saya, PPMI selama ini amat membutuhkan jaringan yang lebih banyak lagi? Saking butuhnya terhadap jaringan, semestinya tidak dimintapun, PPMI yang harus jemput bola dengan meminta bantuan LPM-LPM se-Indonesia (yang belum masuk PPMI) untuk mengadakan PPMI di prpopinsi dan kabupaten/kota mereka masing-masing? Lha ini kok sudah diminta tidak di follow up? Aneh!
Kasus Aceh ini nyaris sama dengan kasus yang dialami kawan-kawan persma di Kepulauan Riau (kepri). Kawan-kawan Kepri dengan semangatnya pengen mendirikan ppmi kota Kepri tapi ditolak mentah-mentah juga dengan alasan yang saya justru prihatin. Saudara Arman (Mantan Sekjend) bilang waktu Kongres di Mataram, karena kawan persma di Kepri itu bergerak diluar kampus sementara yang dimaksud LPM dalam AD/ART PPMI adalah organ LPM yang eksis di dalam kampus? Alasan yang konyo! Dan kental aroma birokratisnya!
Dalam kondisi PPMI yang sekarang, saya berpendapat, tak seharusnya kawan2 PPMI nasional terlalu birokratis seperti ini. Sudah saatnya kita buka diri dan berfikir bagaimana PPMI ini bisa menjadi kekuatan nasional. Yang kita butuhkan sekarang punya banyak teman untuk melakukan perjuangan bersama-sama. Jangan hanya karena persoalan sepele kemudian semangat kawan-kawan yang ingin begabung di PPMI dikandaskan dengan alasan gak jelas. Jika ini terus-terus terjadi, saya khawatir PPMI takan pernah besar, takan pernah menjadi kekuatan nasional, takan berguna untuk LPM-LPM se-Indonesia dan tentu saja yang akan diadakan setiap pertemuan nasional hanya curhat dan jalan-jalan. []
