Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Posisi & Oposisi

Proses politik yang sehat mengandaikan adanya kekuatan besar yang berkuasa dan adanya kekuatan penyeimbang agar kekuasaan tidak semena-mena. Dalam politik biasa dinamakan posisi dan oposisi. Kontrol yang ketat dari oposisi atas kekuasaan diharapkan akan memberi chack and ballances dalam memutuskan perkara apapun oleh pemerintah.

Dari oposisilah diharapkan muncul wacana tanding dari setiap keputusan yang diputuskan pemerintah.Maka naif jika setiap kepeutusan mulus-mulus saja tanpa ada yang memberi sumbangsih ide dan wacana tanding untuk menyatakan yang berbeda atau tidak sama tapi lebih tepat atau lebih baik.

Kadang, karena oposisi identik dengan sikap kritis (=baca kritik), pihak oposisi kerap dipandang negatif sebagai kelompom yang hanya bisa mengkritik, sementara tidak bekerja. Inji pandangan yang keliru, sebab, oposisi memang kerjanya mngimbangi kekuasaan ytang melaksanakan program. Bahwa oposisi harus siap kontra memang iya, tapi oposisi juga mesti siap pro ketika kebijakan tersebut mesti harus di dukung karena bermanfaat untuk rakyat.

Dalam sistem perpolitikan kita, ada beberapa kelompok yang bisa berlaku menjadi oposisi. Pertama partai politik. Belum dibolehkannya calon independen dalam undang-undang pemilu kita selama ini menjadikan sistem rekrutmen kekuasaan bertumpu pada partai politik. Calon kepala daerah atau presiden yang ingin berkompetisi dalam pemilihan diharuskan mempunyai sokongan yang memadai dari partai politik. Maka ketika calon dari sebuah partai politik kalah, seharusnya partai tersebut menjadi oposisi bagi yang menang.

Kedua media. Media sebetulnya bukan sekadar bisa menjadi oposisi tetapi malah harus. Ini karena media mempunyai dalam posisi independen. Tak memihak dan cenderung bersikap bebas. Tak hanya menjadi oposisi kepada pihak yang berkuasa, tapi juga kritis terhadap yang tidak berkuasa.

Ketiga tokoh. Ketokohan seseorang bisa dilihat dari apakah ia mempunyai bassis massa ataui tidak? Berpengaruh atau tidak. Tokoh ini bisa berasal dari pemimpin lembaga keagamaan, pemimpin budaya dan juga tokoh politik. Oposisi dari seorang tokoh akan efektif manakala sang tokoh juga kritis terhadap kebijakan.

Keempat oposisi bisa beraal dari parlemen jalanan. Ini identik dengan kaum aktifis dan mahasiwa. Dikatakan parlemen jalanan karena biasanya aspirasi mereka tumpahkan ke jalan dengan demonstrasi atau pernyataan-pernyatataan politik.[]