Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

“Potong Saja Kakiku dok, Asal Jangan Tanganku! Aku Mau Jadi Penulis”

Itulah sepotong kalimat yang diucapkan adikku saat mengetahui dirinya menderita kangker ganas. Penyakit mematikan itu mulai dirasakannya serius sejak empat bulan lalu ketika sebuah benjolan tumor sebesar telunjuk jari di betisnya mulai membesar. Sebulan sebelumnya, tumor sebesar jari telunjuk itu dioperasi di sebuah rumah sakit swasta. Hasilnya, tumor itu diketahui jenis tumor kulit yang terindikasi jinak.

Namun ayal, setelah sebulan berlalu, tumor kecil itu mulai tumbuh lagi. Kali ini kian besar, sebesar buah avokat. Semakin hari bahkan tumor itu sudah sebesar botol kecap ABC. Karena mengkhawatirkan, kami terpaksa membawanya ke rumah sakit lagi untuk operasi.
Operasi kali ini dinilai gagal, karena menurut dokter, dilihat dari perkembangannya, tumor ini ganas.
“Saya tidak yakin hasil operasi ini, banyak akarnya masih belum bisa diangkat” kata dokter yang aku lupa namanya.
Benar saja, pasca operasi kedua itu, penyakit mematikan itu kian hari kian tak terdeteksi. Lepas dua minggu pasca operasi, adikku mulai mengeluh nyeri pinggang. Kami mengiranya karena terlampau banyak tidur terlentang sehingga kami mendatangkan tukan urut dan dukun. Karena adikku manja, diantara kami ada juga yang mengiranya hanya aksi manja saja. Namun, keluhan nyeri pinggang itu tiba-tiba diikuti pendarahan bekas operasi itu. Lukanya tak kunjung sembuh hingga HB (sel darah merah)-nya menurun hingga 4.0. Kami membawanya ke sebuah rumah sakit di Mataram untuk segera ditransfusi. Dokter juga meminta adik kami di rongen untuk mengetahui penyebab nyeri pinggang itu. Sambil menunggu hasil rongen, adikku terus ditranfusi. Dan beberapa hari kemudian, setelah darah masuk ketubuhnya, ia mulai batuk-batuk dan berdahak darah. Semua kami terkejut. Lebih terkejut lagi setelah mengetahui hasil rongen, bahwa keluhan nyeri pinggang dan batuk berdahak darah itu di curigai akibat dari tumor di betisnya itu.
“Saya curiga ini tumor ganas, segera dirujuk ke Denpasar saja, kami tidak sanggup mengatasinya” Bisik dokter padaku.
Shock, semua keluarga kami shock. Ibu dan bapakku langsung menangis histerus. Aku tetap berupaya tenang. Namun kesedihan tetap tak mampu kusembunyikan. Aku menagis di belakang kamar rumah sakit itu. Surat rujukan telah diberikan, dan kami siap berangkat esok pagi. Kami berangkat menggunakan pesawat supaya cepat. Dan yang paling menyedihkan, sesampai di rumah sakit Sanglah Denpasar, hasil diagnosisnya adikku mengidap Kangker Soft Tisue Sarcoma. Sebuah jenis kangker yang cukup langka dan sulit dicarikan obatnya. Dr. Kusuma. Ya, itu nama dokter yang pertama kali menangani adikku di rumah sakit besar itu. Dr. Kusuma orangnya santun, sederhana, perhatian dan tidak cuek. Ia salah satu ahli onkologi rumah sakit ini. Beliau katakan, kangker adik saya telah menyebar ke tulang belakang dan paru. “Ada tiga tindakan yang akan coba kita lakukan, pertama USG, kedua Cemo theraphy dan ketiga operasi, dan karena penyakit adik anda berat, mohon bersabar ya” kata dokter muda itu. Beberapa tindakanpun mulai dilakukan Dr. Kusuma dan Tim medisnya. Pertama-tama adikku di masukkan di ruang radiologi dan menjalani USG hati dan otak. Hasilnya, alhamdullah, keduanya masih baik, belum terkena kangker. Katanya, dua organ ini paling vital dan harus yang pertama kali diselamatkan. Tindakan kedua, USG pinggang dan dada. Yang kedua ini membuat kami tersedak dan menangis. Tulang belakang adikku ternyata telah keropos dan terancam lumpuh, sementara sebelah parunya juga mengalami hal yang sama namun tidak separah tulang belakang. Kami harus menunggu dua minggu sebelum tindakan kedua dilakukan. Sementara tumor dikaki adikku terlihat semakin membesar serta pinggang dan dadanya dikeluhkannya lebih nyeri dari sebelumnya. Hingga minggu ketiga baru di adakan Cemo Therapy sesuai yang dijanjikan. Cemo therapy adalah sejenis obat kangker racikan yang ditemukan beberapa tahun lalu di Sanglah. Menurut Dr, Kusuma, theraphy ini terbukti telah menyembuhkan banyak pasien kangker di rumah sakit ini.
“Kita berdoa saja, semoga cemonya berhasil” katanya penuh harap.
Sementara menunggu reaksi obat cemo, kangker di kakinya terus membesar dan mengalami pendarahan. Kami di suruh tranfusi lagi hingga empat kantong. Alhmadulillah, setelah tranfusi, batuk berdahak darah dan sakit dadanya berkurang. Dr. Kusuma melakukan foto lagi untuk dadanya. Alhamdullah, telah membaik. Sementara nyeri dipinggangnya belum bisa diatasi, kami dimina membeli obat anti keropos tulang, namanya Bondronat. Harganya mahal banget 3.40.000. Obat ini langka banget, aku berkeliling hampir kesemua wilayah di denpasar. Baru menemukannya setelah sekitar dua minggu kami melakukan pencarian. Saya mendapatkan di apotik Adhi Guna yang letaknya persis di belakang mall Tiara Dewata. Beberapa hari kemudian, foto pinggang dilakukan. Hasilnya, beberapa bagian tulang telah keropos berat dan harus dioperasi. Jika tidak, adikku terancam tidak bisa jalan atau paling minim bongkok. Akhirnya kami menyetujui operasi. Sampai disini, luka di kaki bekas operasi itu tidak jua menunjukkan tanda-tanda akan sembuh. Bahkan terus mengalami pendarahan. “Kita atasi dada lebih dahulu, baru pinggang trus kaki” kata Dr. Kusuma. Pada kesempatan itu, Dr. Kusuma juga memberitahu kami, jika kangker ganas seperti ini sulit di obati. Jika mau sembuh total maka adiikku harus di amputasi. Kami sekeluarga langsung terperanjat. Dr. Kusuma memberikan penjelasan, ini karena banyak sel-sel yang tak terlihat saat operasi sehingga dikhawatirkan akan tetap tersisa dan menjadi kangker baru lagi. Adikku serta aku, ibu dan paman yang menunggunya pasrah sudah.
“Silakan aja dokter melakukan yang terbaik untuk adik saya” kataku.
“Potong Saja Kakiku dok, Asal Jangan Tanganku, Aku Mau Jadi Penulis !” Kata adikku sedih.
Namun dokter belum bisa menangani kaki adikku sebelum kondisi fisiknya terutama dada dan pinggangnya sembuh. Akhirnya tindakan selanjutnya, harus operasi tulang belakang dulu. Namun karena Dr. Kusuma ahli dibidang onkologi, ia tak mau menangani operasi ini. Diserahkannya ke dokter syaraf dan tulang, Dr. Yanti dan Dr.Iwan.
Dua dokter ini berbeda dengan Dr. Kusuma. Sebaliknya dari Dr. Kusuma, kedua orang ini lumayan jutek dan pemalas. Adikku jarang dikunjunginya langsung seperti yang sering dilakukan Dr. Kusuma. Mereka jarang sekali datang, bahkan mereka hanya cukup dengan mengutus asistennya. Namun, melalui dua dokter ini akkhirnya kami menyetujui tindakan operasi itu. Ia membutuhkan biaya yang tak sedikit. Kami mengeluarkan tak kurang dari dua juta rupiah untuk membeli alat yang akan dipasangkan dipunggungnya ketika operasi. Belum lagi untuk obat tak kurang dari satu setengah juta rupiah. Nah, pasca operasi punggung inilah, kondisi adikku mulai drop. Ia sangat lemah, tak bisa makan, nyerinya semakin parah dan mulai batuk darah lagi. Sementara kakinya masih terus mengalami pendarahan. Lebih sedih lagi, setelah diadakan foto pinggang pasca operasi, ternyata operasi yang pertama dinilai gagal. Pasalnya, objek tulang yang digunakan sebagai tempat untuk merekatkan alat tersebut ternyata ikut keropos. Dr. Yanti dan Dr. Iwan bilang, harus segera dioperasi ulang. Ditambah beban psikologis, dimana adikku merasa jarang diperahatikan dokternya. Kondisinya semakin hari-semakin memburuk. Tidak seperti Dr. Kusuma yang kerap menyapanya dan memberikan spirit untuk terus optimis sembuh, dua dokter ini terbilang sangat cuek. Kami akhirnya dibuatnya jengkel. Beberapa kali kami laporkan ke pihak kepegawaian rumah sakit supaya dua dokter ini diganti saja. Namun tak ada hasil. Operasi ulangpun dilakukan. Praksis, setelah operasi kedua ini adikku sudah tak bisa berbuat apa-apa. Ngomong aja susah. Entah apa yang ia rasakan, ia enggan diajak ngomong. Hanya merintih kesakitan dan membuat kami kebingungan. Semnetara itu, dua dokter sial itu semakin hari semakin menunjukkan sikap tidak mengenakkan. Habis dioperasi kami merasa ditinggalkan begitu saja. Disaat kondisi kian memburuk itulah, beberapa tumor tumbuh ditempat berbeda. Di mata sebelah kanan, kemudian di kandung kemih, bengkak sepeti bisul besar. Adikku sudah tidak bisa bergerak-gerak lagi. Untuk berbalik saja, kami harus bersusah payah membantunya. Organ kaki juga dirasakannya sudah tak berfungsi. Tangisan melanda kami. Kondisi adiikku semakin parah saja. Sementara pihak rumah sakit membuat kami menyesal. Para dokter hanya menyarankan kami beli obat-obat mahal yang tak jua menunjukkan hasil. Sementara kondisi adikku bukannya membaik tapi jauh lebih parah dari sebelumnya. Senin lalu, karena tak ada biaya, dengan terpaksa kami harus membawa adik kami pulang dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Dari mata sebelah kanan muncul tumor yang semakin hari semakin membesar, ia sudah tak bisa melihat. Sementara di kandung kemihnya juga demikian, bahakn lebih besar. Sementara tumor di betisnya juga hingga hari ini mengalami pendarahan terus menerus. Kami sekeluarga menangis.[] Paok Dandak, 2 Maret 2009
2:26