My Sadness
Pagi yang penuh dengan keterkejutan, Dr. Santiyo membaca hasil Rongen, bahwa suaidi dicurigainya kangker ganas, dilihat dari cirri-ciri rongen dada dan pinggangnya. “Anak ini harus dibawa ke bali” kata Dr. Santyo. Aku dan inaq langsung menangis. Bapakku yang sudah sakit semakin sakit. Betul-2 dalam susana yang sangat menyedihkan. Aku baru alami sekali ini dalam hidupku.Hmm…lama banget aku absen dari dunia blog ini. Praksis sejak terakhir posting pada 09 desember 2008 aku gak pernah menyentuhnya lagi. Akhir tahun 2008 dan awal tahun 2009 ini memang menjadi saat-saat tersulit bagiku. Beragam persoalan aku hadapi, mulai dari dikejar-kejar wisuda, jarik yang belum laporan, asma bapak kambuh sampai adikku “suaidi” [yang lagi asyik-asyiknya kuliah di Situbondo] juga tiba-tiba sakit keras, “kangker”.
Akhir tahun dan awal tahun yang aku beri judul “The Sadness Year”. Tahun yang betul-betul sarat “kesedihan” mendalam. Dan cerita hari ini adalah juga cerita kesedihan. Cerita tentan adiikku yang di vonis kangker ganas oleh dokter.
Berawal ketika sekitar tiga bulan yang lalu, adikku Suaidi mengeluh benjolan kecil di betisnya semakin membesar dan dirasakan sakit sekali. “aku susah sekali jalan” katanya, waktu itu ia masih di situbondo. Aku konsultasikan ke orang tuaku dan mereka mantap menyuruh suaidi pulang. Iapun dioperasi di Lombok. Aku tenang setelah itu. Adikku akan sembuh.
Dan..
Tiba-tiba, dua bulan setelah operasi, dari situbondo suaidi sms aku lagi, memberitahu aku kalo penyakit itu tumbuh lagi bahkan sekarang ini lebih besar. “Aku mau pulang aja, aku gak bias jalan, beriahu bapak ya” katanya sedih. Aku berusaha memberikannya ketenangan, aku mempertimbangkan keadaan orang tua di rumah yang lagi susah-susahnya karena uang. Mau tanam padi lagi. “Kalo bias kamu jangan pulang dulu, periksa aja dulu disana mungkin kamu bias atasi sendiri” kataku memintanya.
Tapi tak ayal..
Setelah beberapa hari, ia semakin mengeluh. Dia tidak sabar dan sangat khawatir. Tumor itu telah membesar dan bahkan sudah mulai nyut-nyutan. Bapak akhirnya menyuruhnya pulang. Karena pengalaman operasi dua bulan lalu yang kunilai gagal, sempat ku berfikir sekarang harus ia harus mendapatkan perawatan yang lebih maksimal. Aku usul sama bapak agar dia di operasi aja di Denpasar. Biarin dia turun di bali nanti kita yang kesana menemuinya. Namun bapak dan dia sendiri punya pertimbangan lain. Pulanglah dia.. Aku, bapak dan pak udeng menjelmputnya di Bus Safari Dharma Raya. Aku langsung menajak bapak periksa di Mataram. Kata dokter saat itu, “ini harus operasi besar dan membutuhkan biaya tak kurang dari 7 jutaan”. Mendengar hal ini, bapak jadi agak kagetDan aku tak bias berkomentar apa-apa. “Terserah bapak lah…” Kataku. “kita pertimbangkan dulu” Kata beliau. Dan mereka akhirnya pulang kerumah.
Setelah operasi, suaidi gak sembuh-sembuh. Satu minggu, dua minggu semakin parah saja. Tak hanya nyerinya tumor itu yang ia rasakan tapi juga nyeri di dada dan pinggang. Awalnya kami sekeluarga mengiranya karena terlalu banyak tidur, dan keluarga berupaya menggunakan obat tradisional sasak. Namun tak ayal semakin hari semakin parah saja. Sementara pertolongan apapun tak bias kami lakukan.
Pada hari yang sungguh menggetarkan karena suasana rumah yang [semua wajah terlihat susah]. Aku mengajak bapaka membawanya lagi ke dokter. Kali ini aku gak mau dia dibawa ke rumah sakit, lebih baik ke dokter spesialis. “minimal kita mendapatkan kejelasan tentan penyakitnya” kataku beralasan. Tapi keluargaku mengiranya tetap sama, sakit karena terlalu banyak tidur.
Akhirnya…Dr. Santiyo, DrB. Di Mataram menjadi pilihannya. Dr Santyo akhirnya menyuruh adikku di kamar saja di Rumah Sakit Islam biar sdia bias memeriksanya, karena bertugas disana. Lima hari kami di rumah sakit itu, sambil menungu hasil rongen, kami menunggunya disitu.
Pagi yang penuh dengan keterkejutan, Dr. Santiyo membaca hasil Rongen, bahwa suaidi dicurigainya kangker ganas, dilihat dari cirri-ciri rongen dada dan pinggangnya. “Anak ini harus dibawa ke bali” kata Dr. Santyo. Aku dan inaq langsung menangis. Bapakku yang sudah sakit semakin sakit. Betul-2 dalam susana yang sangat menyedihkan. Aku baru alami sekali ini dalam hidupku.
Kami berangkat ke bali dan akhirnya suaidi di vonis kangker ganas. Aku semakin sedih. Menangis dan terus menangis. Kok begini jadinya? Sampai tulisan ini terpsting aku masih menunggunya di sini, Rumah Sakit Sangalah Ruangan Angsoka I no 106. Entahlah, hanya do’a yang bias kuucapkan. Semoga adikku sembuh dan meraih cita-citanya denan bahagia. Amin.
Sanglah, 29 Januari 2009
