Sesatnya Tafsir Tuan Guru
Saat masyarakat sibuk mempersoalkan sesatnya aliran Alqiyadah Islamiyah baru lalu, publik Nusa Tenggara Barat (NTB) tiba-tiba dikejutkan oleh pernyataan ‘pedas’ seorang Tuan Guru yang ‘gerah’ karena mendapat informasi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Mataram mengkaji wacana-wacana kontemporer semacam pluralisme, liberalisme, gender dan Hak-Hak Asasi Manusia (HAM).Tuan Guru yang juga wakil sekretaris Komisi E Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) itu menuding di kampus islam itu telah terjadi pemurtadan. Iima orang dosen disinyalirnya telah mengajarkan faham Islam Liberal (Islib) yang divonisnya sesat. Sesatnya Islib menurut Tuan Guru, karena mengacu pada Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang telah memfatwakan haram pada tiga faham sekularisme, pluralisme dan liberalisme.
Kontan saja, sehari setelah pernyataan Tuan Guru, sejumlah mahasiswa IAIN Mataram ngeluruk ke kantor redaksi media yang memuat peryataan itu. Mereka menuntut Pak Tuan Guru menarik pernyataanya dan dianggap fitnah yang mencemarkan nama baik almamater IAIN. Tak hanya itu, mahasiswa dengan tegas menantang Tuan Guru asal Lombok Timur itu berdebat secara akademis dan memintanya membuktikan pernyataannya. (NTB Post, 1/9).
Tak puas ngeluruk ke Media, mahasiswa juga mendatangi pak Tuan Guru di kantornya. Selain meminta Tuan Guru menarik pernyataannya, mahasiswa juga secara langsung menantang pak Tuan Guru berdebat seputar islib dan wacananya. Dua hari setelah itu, pak Tuan Guru akhirnya mengaku jika pemahamannya tentang Islib masih kurang dan meminta maaf serta menarik ucapan keesokan harinya.
Beraninya mahasiswa ngeluruk bahkan menantang Tuan Guru berdebat seputar agama sungguh fenomenal sekaligus luar biasa. Tuan Guru bagi masyarakat NTB khususnya Sasak selama ini adalah sosok yang disegani dan punya nilai pengaruh yang tinggi. Sama dengan kiai-kiai di Jawa, biasanya masyarakat akan sami’na wa’atha’na (mendengar dan mentaati) apapun yang dikatakan Tuan Guru.
Peristiwa ini menimbulkan pertanyaan, mengapa mahasiswa begitu berani melakukannya hari ini? Inikah petanda pudarnya pengaruh Tuan Guru-Tuan Guru kita? Jika jawabannya ‘iya’, lalu karena siapa? Apakah karena akhlak masyarakat yang sudah dangkal dan rapuh? Atau justru karena Tuan Guru sendiri yang mencederai ketokohannya sebab kurang bijak dan cerdasnya mereka mengarifi persoalan?
Pertanyaan terakhir yang cukup panjang itu menggelitik untuk dijawab. Polemik mahasiswa-Tuan Guru di atas menarik dijadikan sample sikap Tuan Guru selama ini terhadap wacana-wacana keagamaan. Tuduhan yang keluar dari mulut pak Tuan Guru di atas misalnya terkesan gamang dan gagal menafsirkan secara akurat tentang IAIN dan Islam Liberal. IAIN misalnya oleh Tuan Guru dianggap lembaga pendidikan Islam yang mencetak ulama-ulama yang fiqh oriented. Sami’na Wa’atha’na kayak di pesantren-pesantren mereka sehingga tidak boleh terlalu jauh mempelajari ilmu-ilmu ketuhan seperti tasawuf, ilmu kalam dan filasafat.
Sementara Islib oleh mereka ditafsirkannya lebih tidak akurat lagi, menyamakan semua agama, menganggap syurga milik bersama, membuat fikih lintas agama serta mengkaji persoalan perempuan dan gender. Dan karena di IAIN wacana-wacana itu di pelajari dan sementara Islib telah di fatwa sesat MUI, maka kesimpulannya IAIN juga murtad, kafir dan sesat. Kesimpulan yang sangat tidak arif dan keburu-buru
Tuan Guru dan Raja Akbar
Pernyataan sang Tuan Guru ini mengingatkan saya pada cerita Raja kota Akbar dalam novel Paulo Coelho “The Fifth Mountain” yang menyakini gunung kelima berisi tuhan (dewa-dewa). Raja Akbar yakin, dari gunung itulah dewa-dewa mengatur dunia sehingga seluruh rakyat diwajibkannya memberikan persembahan-persembahan ke gunung agar sang dewa tidak murka kepada ummat manusia.
Elia (Nabi Israel) yang hadir di kota Akbar lantas menolak anggapan sang raja karena dinilainya tidak rasional dan tak berdasar. Elia percaya, Tuhan terlampau “Agung”, “Besar” dan “Maha” untuk diasumsikan tinggal di sebuah gunung yang adalah hasil bentukan alam. Gunung itu menurut Elia hanya berisi batu-batuan dan pasir. Untuk meyakinkan raja Akbar dan rakyatnya, Elia meninggali gunung itu sampai berbulan-bulan dan mengaku tidak menemukan dewa-dewa disana. Ia mematahkan asumsi raja Akbar yang konyol itu dan menang dengan pengetahuannya yang akurat serta rasional.
Kesimpulan miring sejumlah orang termasuk Tuan Guru diatas terhadap IAIN dan Islib selama ini saya kira persis seperti asumsi raja Akbar -yang dalam ketidaktahuannya- percaya di gunung kelima ada Tuhan atau dewa-dewa yang mengatur dunia sementara Elia membuktikannya, gunung itu hanya berisi batu dan pasir. Intinya ketidaktahuan.[]
