Benar-Salah Siapa Punya?
Bagi yang segenerasi dengan saya, lahir tahun 80-an, akan masih mengingat kisah kesohor tiga orang buta yang sama-sama berdebat menafsirkan bentuk gajah. Si buta pertama mengatakan gajah memanjang dan kecil karena meraih ekornya. Sibuta kedua mengatakan gajah datar seperti tembok karena kebetulan dia meraba perutnya. Dan si buta ketiga mengatakan gajah lebar dan sebesar piring karena dia memegang kupingnya. Ketiga orang buta itu bagi kita yang normal melakukan deskripsi atas gajah salah besar. Karena gajah samasekali tak berbentuk seperti yang mereka katakan. Namun begitu, bisakah orang buta menyalahkan orang buta?
Di kesempatan lain, Drs. Fawaizul Umam, M.Ag mengilustrasikan kebenaran seperti sebuah cermin besar yang pecah berkeping-keping. Oleh kita, keping-keping cermin itu di pungut untuk berkaca. Masing-masing kita kemudian, dengan sangat subyektif mengatakan apa yang terlihat di kepingan cermin kita adalah kebenaran itu. Padahal, kita tidak menyadari orang lain (the other) diluar kita juga punya keping cermin yang sama dan menganggap kebenaran itu ada pada diri mereka masing-masing. Pantaskah, antara si pemilik cermin mengatakan bahwa, cermin saya yang paling jujur, paling benar dan seterusnya?
Sesungguhnya inilah yang sedang terjadi hari ini. Penyesatan terhadap berbagai aliran keagamaan, pemurtadan terhadap sebagian sempalan agama adalah klaim subyektif tentang kebenaran itu. Kita kok teramat arogan mengaku hanya kitalah yang benar dan meniadakan kebenaran orang lain. Siapa yang punya kebenaran? Dimanakah ia? Siapa yang mampu menjawabnya.
Dulu, Ahmad Wahib pernah memimpikan akan membuat Islam Ala Ahmad Wahib karena dia tidak puas dengan islam gaya Cak Nur, Dawam Rahardjo, Johan Efendi dan lain-lain. Ia ingin islam menurutnya sendiri bukan menurut orang lain []
Di kesempatan lain, Drs. Fawaizul Umam, M.Ag mengilustrasikan kebenaran seperti sebuah cermin besar yang pecah berkeping-keping. Oleh kita, keping-keping cermin itu di pungut untuk berkaca. Masing-masing kita kemudian, dengan sangat subyektif mengatakan apa yang terlihat di kepingan cermin kita adalah kebenaran itu. Padahal, kita tidak menyadari orang lain (the other) diluar kita juga punya keping cermin yang sama dan menganggap kebenaran itu ada pada diri mereka masing-masing. Pantaskah, antara si pemilik cermin mengatakan bahwa, cermin saya yang paling jujur, paling benar dan seterusnya?
Sesungguhnya inilah yang sedang terjadi hari ini. Penyesatan terhadap berbagai aliran keagamaan, pemurtadan terhadap sebagian sempalan agama adalah klaim subyektif tentang kebenaran itu. Kita kok teramat arogan mengaku hanya kitalah yang benar dan meniadakan kebenaran orang lain. Siapa yang punya kebenaran? Dimanakah ia? Siapa yang mampu menjawabnya.
Dulu, Ahmad Wahib pernah memimpikan akan membuat Islam Ala Ahmad Wahib karena dia tidak puas dengan islam gaya Cak Nur, Dawam Rahardjo, Johan Efendi dan lain-lain. Ia ingin islam menurutnya sendiri bukan menurut orang lain []
