Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Menghamba Teks

Pekan lalu di Mailing List (Millis) Jaringan Islam Liberal (JIL), Dr. Ulil Abshar Abdalla mengajak kita melihat ulang beberapa doktrin agama dalam Islam yang menurutnya perlu dibuang. Doktrin-doktrin tersebut menurutnya lebih menggambarkan arogansi daripada esensi atau watak dasar dari Islam. Oleh para ulama, doktrin-doktrin itu ditambahkan sedemikian rupa sekedar untuk menjaga aura agama agar tampak "angker-seram" dan menakutkan di mata pemeluk-pemeluknya.

Bahwa Nabi tidak bisa berbuat salah misalnya menurut Ulil perlu dihilangkan karena tidak berkaitan dengan esensi agama Islam dan nilai Islam tidak akan berkurang jika ummat Islam membuang doktrin tersebut. Juga doktrin tentang, sumber hukum yang hanya terbatas pada empat sumber; Al-Quran, Al-Hadis, Ijma', dan Qiyas.

Doktrin ini tak lebih dari sekadar klaim sekte Ahlussunnah Waljamaah sebagai alat ortodoksi madzhab untuk mempertahankan status quo mereka. Sebaliknya, menurut Ulil, sumber hukum jelas tidak bisa dibatasi dalam empat sumber itu tapi juga bisa juga dari ijtihad kemanusiaan yang dilakukan oleh manusia-manusia lain sepanjang zaman. Kemudian doktrin bahwa sebuah agama mengoreksi atau bahkan menghapuskan agama sebelumnya juga sebagai doktrin supersesionis yang mecerminkan "keangkuhan" sebuah agama.

“Kehadiran agama tidak bisa menegasikan agama lain. Agama-agama adalah saling melengkapi, kristen bisa belajar dari Islam, Islam bisa belajar dari Yahudi, Yahudi bisa belajar dari tradisi-tradisi timur, dan begitu seterusnya” ” demikian pendapat Ulil.

Setelah saya amati, dari keempat belas doktrin Islam yang di kritik Ulil semuanya dialaskan pada teks, logika tektualis. Ia berangkat dari kritik nalar teks dan menyerang teks yang lain yang sudah terejawantahkan dalam doktrin-doktrin itu. Sayapun membalas email Ulil dengan bilang “Anda terlalu menghamba teks, bisakah anda melakukan perubahan tanpa menggunakan teks. Ketika anda tidak bisa mengkritik teks dengan meninggalkan teks maka anda secara tidak langsung juga tektualis”.

Pada jawaban setelahnya, ulil setuju juga akhirnya dengan saya untuk coba melampaui teks. Tapi yang menjadi masalah, bagaimana teks ditinggalkan untuk menuju upaya progresifisme yang lain. Ini masih saya fikirkan dan saya kira tulisan ini hanya uneg-uneg yang belum jua menemukan jawab...aku akan terus mencari tau...