Fawaizul Umam: Liberal, Menyajikan Islam Dengan Humor

Di kampusnya IAIN Mataram, Fawais dikenal cukup konsisten pada pemikiran-pemikirannya. Ia tak segan-segan mengkritik sesuatu yang diyakininya salah dan memperjuangkan apapun yang diyakininya benar
“Ya kalau anak saya keluar Islam tentu saya sedih, tapi lebih sedih lagi jika anak saya keluar dari NU” Demikian seloroh Drs. Fawaizul Umam, M. Ag, Dosen Filsafat IAIN Mataram menanggapi pertanyaan seorang peserta pada diskusi publik dengan tema “Masa Depan Kebebasan Beragama” yang dilaksanakan Jaringan Islam Kampus (Jarik) Mataram di Kampus IAIN Mataram beberapa waktu lalu.
Menyampaikan ide dengan segar dan penuh humor adalah khas Fawais, panggilan akrab bapak dua anak ini. Dimanapun ia tampil sebagai pemateri, hampir wajib joke-joke segar keluar dari mulutnya.
Seperti ketika mengisi materi di acara Nurkholis Madjid Memoriam Lecture yang diadakan baru lalu di Universitas Mataram. Fawais berseloroh tajam mengkritik para aktifis mahasiswa yang sangat akrab dengan pakaian cadar. Katanya “Isteri saya dulu pernah mengutarakan keinginannya menggunakan cadar tapi saya larang, saya bilang, jangan! Nanti menjadi fitnah, wajahmu cantik, tapi kalau kamu bercadar nanti orang-orang curiga, mengira kamu sumbing dan bopeng” Sontak para peserta yang mayoritas aktifis Kesatuan Aksi Mahasiswa Islam Indonesia (KAMMI) itu tertawa di bikinnya.
Guyon yang sama lucunya juga ia sampaikan ketika ia di panel dengan TGH. Zainul Majedi di acara diskusi publik dengan tema “Quo Vadis Jika NTB Di Pimpin Tuan Guru”. “Saya berbicara blak-blakan begini karena saya ingin menyelamatkan Tuan Guru kita ini, jangan sampai ia meninggalkan ummat gara-gara berpolitik, karena dalam Hadis, Seorang Tuan Guru itu derajatnya berada di bawah para Nabi. Lha kalo Tuan Guru berpolitik, jelas derajatnya turun dong, makanya jika anda semua ingin menyelamatkan Tuan Guru, anda jangan memilihnya dia menjadi Gubernur NTB 2008”
Di kampusnya IAIN Mataram, Fawais dikenal cukup konsisten pada pemikiran-pemikirannya. Ia tak segan-segan mengkritik sesuatu yang diyakininya salah dan memperjuangkan apapun yang diyakininya benar. “Bagi saya, jika IAIN serius ingin melakukan studi keislaman, maka sudah saatnya IAIN tidak merasa risih menerima mahasiswa non-muslim, dosen juga seharusnya tidak enggan punya mahasiswa beragama lain, karena bagaimanapun juga, orang yang risih berdampingan dengan orang yang berbeda agama berarti, orang itu tidak pede dengan imannya sendiri” Kata Fawais di depan dosen dan pejabat IAIN Mataram belum lama ini.
Dipilihnya menyampaikan pikiran-pikiran dengan disertai humor-humor segar bagi Fawais adalah metode yang sangat efektif untuk bersuara di tengah komunitas ummat islam yang rigit dan cenderung tak suka menerima kritik. Ia banyak belajar dari Gusdur dalam hal ini. “Tuan Guru itu kan orang yang di besarkan di tengah tradisi dimana semua orang menghormatinya, maka untuk melakukan kritik tidak bisa dengan frontal, lebih baik dengan joke-joke seperti itu, mereka tidak akan marah” kata Fawais suatu saat ketika saya tanya, mengapa ia lebih suka humor saat menyampaikan fikiran-fikirannya.
Di publik NTB, nama Fawais saat ini memang cukup tenar, terutama setelah ia sering diundang oleh berbagai elemen masyarakat untuk menyampaikan fikiran-fikirannya secara terbuka. Selain karena penyampaiannya yang renyah dan segar, Fawais juga berpengetahuan luas terutama di bidang filsafat dan keislaman. Konon, dirumahnya ia mengoleksi ribuan buku dan jurnal yang terus ia baca serta jiga aktif bergelut dengan teman-teman intelektual muda di Nahdlatul Ulama.
Selain itu, Fawais dikenal dosen yang sangat sederhana. Baju dan celana yang dilipat serta rambut gondrong adalah salah satu ciri khas penampilannya. Salah seorang mahasiswa IAIN Mataram Irvan Wahid, mengaku sering tertawa geli melihat style Fawais ketika tampil di forum-forum. “Jika orang belum mengenalnya mungkin dikira bukan intelektual, tapi kalau sudah dapat giliran bicara, wah semua di obrak-abrik..haha” Sanjung Irvan ditemui di Sekretariat Jarik Mataram.[]
“Ya kalau anak saya keluar Islam tentu saya sedih, tapi lebih sedih lagi jika anak saya keluar dari NU” Demikian seloroh Drs. Fawaizul Umam, M. Ag, Dosen Filsafat IAIN Mataram menanggapi pertanyaan seorang peserta pada diskusi publik dengan tema “Masa Depan Kebebasan Beragama” yang dilaksanakan Jaringan Islam Kampus (Jarik) Mataram di Kampus IAIN Mataram beberapa waktu lalu.
Menyampaikan ide dengan segar dan penuh humor adalah khas Fawais, panggilan akrab bapak dua anak ini. Dimanapun ia tampil sebagai pemateri, hampir wajib joke-joke segar keluar dari mulutnya.
Seperti ketika mengisi materi di acara Nurkholis Madjid Memoriam Lecture yang diadakan baru lalu di Universitas Mataram. Fawais berseloroh tajam mengkritik para aktifis mahasiswa yang sangat akrab dengan pakaian cadar. Katanya “Isteri saya dulu pernah mengutarakan keinginannya menggunakan cadar tapi saya larang, saya bilang, jangan! Nanti menjadi fitnah, wajahmu cantik, tapi kalau kamu bercadar nanti orang-orang curiga, mengira kamu sumbing dan bopeng” Sontak para peserta yang mayoritas aktifis Kesatuan Aksi Mahasiswa Islam Indonesia (KAMMI) itu tertawa di bikinnya.
Guyon yang sama lucunya juga ia sampaikan ketika ia di panel dengan TGH. Zainul Majedi di acara diskusi publik dengan tema “Quo Vadis Jika NTB Di Pimpin Tuan Guru”. “Saya berbicara blak-blakan begini karena saya ingin menyelamatkan Tuan Guru kita ini, jangan sampai ia meninggalkan ummat gara-gara berpolitik, karena dalam Hadis, Seorang Tuan Guru itu derajatnya berada di bawah para Nabi. Lha kalo Tuan Guru berpolitik, jelas derajatnya turun dong, makanya jika anda semua ingin menyelamatkan Tuan Guru, anda jangan memilihnya dia menjadi Gubernur NTB 2008”
Di kampusnya IAIN Mataram, Fawais dikenal cukup konsisten pada pemikiran-pemikirannya. Ia tak segan-segan mengkritik sesuatu yang diyakininya salah dan memperjuangkan apapun yang diyakininya benar. “Bagi saya, jika IAIN serius ingin melakukan studi keislaman, maka sudah saatnya IAIN tidak merasa risih menerima mahasiswa non-muslim, dosen juga seharusnya tidak enggan punya mahasiswa beragama lain, karena bagaimanapun juga, orang yang risih berdampingan dengan orang yang berbeda agama berarti, orang itu tidak pede dengan imannya sendiri” Kata Fawais di depan dosen dan pejabat IAIN Mataram belum lama ini.
Dipilihnya menyampaikan pikiran-pikiran dengan disertai humor-humor segar bagi Fawais adalah metode yang sangat efektif untuk bersuara di tengah komunitas ummat islam yang rigit dan cenderung tak suka menerima kritik. Ia banyak belajar dari Gusdur dalam hal ini. “Tuan Guru itu kan orang yang di besarkan di tengah tradisi dimana semua orang menghormatinya, maka untuk melakukan kritik tidak bisa dengan frontal, lebih baik dengan joke-joke seperti itu, mereka tidak akan marah” kata Fawais suatu saat ketika saya tanya, mengapa ia lebih suka humor saat menyampaikan fikiran-fikirannya.
Di publik NTB, nama Fawais saat ini memang cukup tenar, terutama setelah ia sering diundang oleh berbagai elemen masyarakat untuk menyampaikan fikiran-fikirannya secara terbuka. Selain karena penyampaiannya yang renyah dan segar, Fawais juga berpengetahuan luas terutama di bidang filsafat dan keislaman. Konon, dirumahnya ia mengoleksi ribuan buku dan jurnal yang terus ia baca serta jiga aktif bergelut dengan teman-teman intelektual muda di Nahdlatul Ulama.
Selain itu, Fawais dikenal dosen yang sangat sederhana. Baju dan celana yang dilipat serta rambut gondrong adalah salah satu ciri khas penampilannya. Salah seorang mahasiswa IAIN Mataram Irvan Wahid, mengaku sering tertawa geli melihat style Fawais ketika tampil di forum-forum. “Jika orang belum mengenalnya mungkin dikira bukan intelektual, tapi kalau sudah dapat giliran bicara, wah semua di obrak-abrik..haha” Sanjung Irvan ditemui di Sekretariat Jarik Mataram.[]
