Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kapan Ramadhan Tercerahkan?

Jangan lupa, dari kotak-kotak televisi-pun akan tersajikan menu tontonan yang spesial Ramadhan pula. Artis yang sebelum Ramadhan tak kenal jilbab atau aktor yang tak kenal songkok haji, hari itu akan memakainya dengan umbar senyum yang diyakininya paling indah. Semuanya berpenampilan sangat-sangat islami. Tak heran jika Inul Daratista yang suka goyang ngeborpun akan berjilbab layaknya aktifis-aktifis masjid lainnya.


TERDAPAT sebuah hadits yang selalu saya ingat menjelang akan datangnya ramadhan seperti sekarang ini. Bunyi hadits itu kalo gak salah begini “Barang siapa yang bergembira dengan datangnya ramadhan maka akan diampunkan dosa-dosa yang telah lalu maupun yang akan datang”. Saya tidak tahu apakah hadist ini shohoh, do’if atau maudhu’, yang jelas saya pernah membacanya di salah satu kitab hadist.

Semasa kecil oleh karena pengaruh hadist ini, saya selalu berusaha gembira dengan datangnya Ramadhan, walau misalnya saya dalam keadaan sedih betul, saya tetap akan berusaha menampakkan kegembiraan minimal di depan bapak saya karena bapak saya terlampau yakin dengan hadits ini. Bapak saya akan membentak apabila saya terlihat cemberut menjelang ramadhan. “Nanti gak diampunin dosa-dosamu” katanya. Walhasil, apapun kondisi psikologis saya, Ramadhan harus disambut dengan gembira.

Nampaknya, diluar diri saya, sebagian muslim di Indonesia juga demikian. Entah, karena terdapat pengaruh hadits ini atau bukan. Yang jelas saya selalu melihat kegembiraan mendadak di wajah-wajah ummat islam saat Ramadhan menjelang.

Lihatlah, penyambutan Ramadhan yang gegap-gempita, meriah dan heboh. Kalo dikampung saya –seminggu sebelum hari H- biasanya semua tempat akan di bersihkan warga. Masjid-masjid dan mushalla yang sebelum puasa biasa-biasa saja, saat itu akan di persolek bahkan di lengkapi dengan berbagai macam arsesoris seperti lampu kelap-kelip dan speaker masjid yang semakin di perbesar.

Kampus-kampus, sekolah, pusat perbelanjaan serta rumah-rumah penduduk juga demikian, semua di rapikan dan di perindah. Anak-anak muda bahkan jauh-jauh hari akan mempersiapkan pakaian-pakaian bagus untuk ber-tarawih (maklum biasanya agenda lainnya; cari jodoh). Pokoknya sangat semarak seperti menjelang peringatan 17-an Agustus baru lalu.

Kita juga akan melihat perubahan besar pada diri tiap-tiap orang. Yang tidak pernah pakai songkok, hari itu bisa jadi akan menggunakan surban bahkan jubah. Tak terkecuali rakyat jelata yang miskin papa, apalagi kaum elit yang kaya raya. Semua akan menampakkan semarak yang luar biasa. Di hari-hari itu semua orang akan melihat tampilan fisik. Tasbih yang panjang, surban yang meleler bahkan songkok yang tingginya busyet dah!

Jangan lupa, dari kotak-kotak televisi-pun akan tersajikan menu tontonan yang spesial Ramadhan pula. Artis yang sebelum Ramadhan tak kenal jilbab atau aktor yang tak kenal songkok haji, hari itu akan memakainya dengan umbar senyum yang diyakininya paling indah. Semuanya berpenampilan sangat-sangat islami. Tak heran jika Inul Daratista yang suka goyang ngeborpun akan berjilbab layaknya aktifis-aktifis masjid lainnya.

Para intelektual muslim, para khatib dan para da’ipun selama sebulan penuh itu akan mengumbar omongan tentang seluk beluk Ramadhan. Keutamaan, amalan-amalan, serta materi-materi lainnya. Seolah-olah, kebangkitan islam sudah datang, kebangkitan yang semu. Kebangkitan sesaat. Kita juga akan melihat aparat sibuk razia diamana-mana, menutup tempat hiburan, menutup warung-warung makan dan tak lupa menjaring PSK.

Gegap gempita menyambut Ramadhan seperti ini sungguh menjadi kenaifan kita semua ummat muslim. Bulan Ramadhan seperti kata Hamid Basya’ib bukan lagi seperti bulan puasa tapi bulan hiburan dan bulan banjir hadiah. Teranglah bahwa kita ummat islam sesungguhnya hanya tertarik pada symbol. Sampai kapankah hal seperti ini akan berakhir?

Selepas ramadhan nanti, orang-orangpun bergembira kembali ke fitrah. Haha, kembali kepada fitrah yang mana? Fitrah pura-pura? Entahlah. Inilah Realitas ummat muslim hari ini yang perlu diberi pencerahan.