Maulid; Satu lagi Islamisasi Tradisi (Tanggapan Mimbar Jum’at Lombok Post Bersama Ustadz Patompo Adnan, LC)
Islamisasi tradisi yang terjadi dalam proses penyebaran Islam di Jawa dan Rusia sebetulnya adalah kontinuitas dari tanggungjawab keberlangsungan tradisi dakwah yang dilakukan Rasulullah di Makkah dan Madinah pada masa kenabian dimana Rasulullah dengan sangat istiqomah berdakwah dengan memperhatikan nilai-nilai lokalitas jahiliyah saat itu..Bulan-bulan ini masyarakat tengah disibukkan dengan satu tradisi penting dalam Islam bernama Maulid Nabi-atau dalam bahasa Sasak disebut Mulud. Perayaan Maulid ini dimaksudkan untuk memperingati hari lahirnya Nabi Muhammad yang jatuh pada 12 Rabi’ul Awal dalam hitungan tahun Hijriyah.
Khusus untuk tradisi masyarakat Lombok, perayaan Maulid tidak hanya dapat dilakukan pas hari-H itu saja, tapi tetap bisa dirayakan sepanjang bulan Rabi’ul Awal belum usai. Maka tak heran walaupun 12 Rabi’ul Awal telah dua minggu berselang, masih saja terdapat masyarakat yang memperingatinya seperti yang dilaksanakan masyarakat Kelurahan Dasan Agung Mataram beberapa hari ini.
Untuk masyarakat Lombok, selain memperingati Maulid Nabi dengan membentuk halaqoh-halaqoh pengajian di masjid-masjid, juga yang tak dapat dipisahkan adalah tradisi Ruah atau Ruah Mulud. Ruah Mulud ini biasanya diapilikasikan dalam bentuk ngumpul bersama atau pesta kecil-kecilan dengan mengudang sanak kerabat dan tetangga-tetangga dekat. Bahkan untuk masyarakat yang terbilang mampu, selain mengundang kerabat dekat mereka juga mengundang fakir miskin dan anak yatim makan-makan di rumahnya.
Tradisi Ruah Mulud bagi masyarakat Sasak umumnya dimaksudkan sebagai wujud cinta kepada Rasululah SAW serta aplikasi syukur atas kelebihan yang diberikan Allah berupa harta. Walaupun memang terdapat beberapa masyarakat yang dengan tradisi Ruah Mulud menyimpan maksud kurang baik seperti mencari popularitas dan sanjungan masyarakat yang lain, tetapi itu tak seberapa jika dibandingkan dengan jumlah masyarakat yang melaksanakannya dengan ikhlas, beramal soleh, sebagai aplikasi kepedulian terhadap fakir miskin.
Sungguh ambivalen dengan cerita Ustadz Patompo Adnan, LC di Mimbar Jum’at 21 April lalu yang aktif dimuat di harian ini. Menurut ustadz Patompo, justru acara Roah Maulid telah menimbulkan sisi negatif yang menurutnya sangat serius. Konon salah seorang kerabatnya berhutang hingga satu juta rupiah hanya untuk merayakan maulid. Bahkan tambah ustadz, pamannya tergopoh-gopoh ke toilet karena mules sehabis menyantap hidangan Ruah Mulud itu.
Bagi saya, cerita ustadz Ptompo itu hanyalah segmen cerita sedih dibalik setumpuk cerita menarik Ruah Maulid. Saya juga punya cerita lebih menarik yang terjadi di masyarakat saya di Lombok Tengah, dimana setiap menjelang Rabi’ul Awal-khususnya mereka yang secara ekonomi dibawah rata-rata- akan sangat senang karena orang-orang yang terbilang kaya didesanya, biasanya akan mengadakan pesta Ruah Mulud yang membuat mereka bisa mengganjal perut barang dua-tiga hari. Bahkan tidak sedikit masyarakat yang telah berfikir lebih baik, Ruah Mulud diwujudkan dengan membagikan sedikit uang untuk sekedar membantu biaya keluarga miskin membeli baju sekolah untuk anak-anaknya.
Saya tidak habis fikir, manakala sebagian kita justru mempertanyakan substansi Maulid yang bersamaan dengannya mengaburkan makna maulid itu sendiri. Tentu saja seperti yang terjadi didaerah saya, korelasi positif antara perayaan maulid dengan Ruahan-nya amat sangat jelas erlihat. Ia sarat dengan nilai-nilai sosial sekaligus keislaman. Katakalah misalnya ungkapan semangat para dermawan didaerah saya yang mengatakan ingin menghidar dari kecaman Allah yang berbunyi “ara’aita al-ladziy yukadzzibu bi al-addin, fa dzalika al-ladziy yadu’ul al-yatim, wa la yahudldlu ‘ala tha’am al-miskin….” [tahukah kamu siapakah orang-orang yang mendustakan agama? Merekalah orang-orang yang tidak peduli terhadap anak yatim, dan tidak sungguh-sungguh memecahkan persoalan makan (kebutuhan hidup pokok) bagi orang-orang miskin….”] (Al-Ma’un : 1-3)
Islamisasi Tradisi; Mesranya Islam dengan Nilai Lokalitas
Apa yang ingin saya katakan bahwa, tradisi Maulid Nabi disertai acara Ruahan sebetulnya telah menyentuh esensi keislaman, dimana syari’at dapat bercengkrama dengan nilai lokalitas. Atau dalam istilah yang lebih populer kita kenal dengan islamisasi tradisi atau tradisi yang diislamkan.
Dalam sejarah perkembangan Islam di Indonesia, kita akan menemukan banyak model Islamisasi tradisi macam begini yang dilakukan oleh penyebar-penyebar Islam pertama terutama di pulau Jawa. Sebutlah misalnya tradisi wayang, gamelan dan bedug. Ketiga tradisi ini dapat terbukti sukses menjadi medium strategis dakwah Walisongo dalam penyebaran Islam. Wayang tidak lagi berbicara tentang dunia dewa-dewa, tapi secara progresif berangsur diisi tauhid serta pelaksanaan syari’at. Bedug tidak lagi menjadi simbol spritualitas lokal sebagai pertanda terjadinya bencana atau lainnya tapi digubah menjadi pertanda waktu sholat telah tiba.
Tindakan Walisongo dalam mengislamkan tradisi orang-orang Jawa tentu saja berangkat dari ajaran Islam sendiri yang bersifat dinamis bahkan elastis (solih Kulli zaman wa makan). Sifat dinamis inilah yang kemudian mencatat sejarah bahwa Islam adalah satu-satunya agama di dunia ini yang mengalami populasi paling singkat dengan angka sangat fantastis.
Bayangkan saja misalkan, jika Islam tidak memiliki semangat dinamis, apa yang akan terjadi di Rusia ketika islam mulai masuk disana sekitar abad XI. Orang-orang rusia sangat akrab dengan alkohol sehingga untuk berpisah dengannya butuh waktu yang cukup lama. Islam ketika berupaya dapat bercenkrama dengan tradisi atau budaya Rusia saat itu, sehingga proses pengharaman terhadap alkohol-pun dilakukan berangsur-angsur.
Islamisasi tradisi yang terjadi dalam proses penyebaran Islam di Jawa dan Rusia sebetulnya adalah kontinuitas dari tanggungjawab keberlangsungan tradisi dakwah yang dilakukan Rasulullah di Makkah dan Madinah pada masa kenabian dimana Rasulullah dengan sangat istiqomah berdakwah dengan memperhatikan nilai-nilai lokalitas jahiliyah saat itu..
Terapalagi jika kita telusuri latar belakang sejarah turunnya Al-Qur’an (Asbab An-Nuzul) maka akan dapat disimpulkan bahwa proses perselingkuhan positif antara petanda-petanda (ayat-ayat) sosial dengan wahyu berupa ayat-ayat ketuhanan terus berlangsung dan menemukan performa terbaiknya ketika Muhammad berhasil dengan dakwahnya di Madinah. Dengan bahasa lain, Tuhan peka dengan persoalan sosial yang ada.. Sehingga Rekaman proses turunnya Al-Qur’an secara berangsur-angsur juga ditegaskan sebagai bagian dari perhatian Tuhan untuk selalu mengkondisikan wahyu yang selalu kontekstual dengan nilai-nilai lokalitas dan kemanusiaan (Ushul Fiqh-Wahab Ibn Khalaf).
Maka sinergis dengan semangat Al-Qur’an dan Muhammad sebagai perantara tunggal dan Maulid sebagai napak tilas sejarah serta roahan sebagai kearifan lokal/tradisi masyarakat Sasak menjadi refleksi yang terus berlangsung. Apa yang dilakukan dalam tradisi Roah Mulud di Lombok saya rasa adalah kreatifitas tradisi lokal yang baik dimana hubungan vertikal (Tuhan) serta hubungan horizontal (makhluk,manusia) berjalan bijaksana dalam konteks Islam yang dapat berdinamisasi dengan zaman dan tempatnya atau bahasa pesantrennya sholih kulli makan wazamanin
Jelasnya, saya juga amat tidak setuju jika maulid di refleksikan dengan hambur-hambur uang karena hal itu adalah benar termasuk perbuatan setan (mubadzir). Tapi saya lebih tidak sepakat jika kemudian perayaan Maulid yang sungguh-sungguh dirayakan dengan iklas dikendorkan dengan kritik-kritik yang tak subtantif.
Bagi saya sebuah tradisi lama yang masih baik perlu dipertahankan dan “dibuang sayang”, tapi kita juga tentu harus membuka diri untuk mengambil tradisi baru yang lebih baik. “Almuhafazatu Ala Qodimil Sholih Wal Akhdzu Ala Jadidil Aslah” (memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik). Wallahu A’lam.[] Lombok Post,30 April 2006
Background:
Tulisan ini adalah kegerahan penulis atas tulisan patompo Adnan pada tanggal 21 April 2006 di mimbar jum’at yang dia asuh di harian Lombok Post. Judul tulisannya menarik “Maulid, Mulud dan Mules”. Dalam tulisan itu Patompo mendobrak (mengkritik) tradisi masyarakat sasak dalam tata cara melaksanakan maulid nabi muhammad SAW. Ia mengatakan perayaan Maulid lebih banyak kehilangan substansi dan sebaliknya diisi dengan acara-makan-makan. Penulis ingin justru menganggap lain. Bahwa acara perayaan itu lebih bermakna kultural berupa silaturrahim beserta kemanusiaan. Karena melalui perayaan itu mayarakat sasak mengaplikasikan rasa syukurnya kepada allah yang telah di kirim melalui muhammad. Penulis ingin menegaskan bahwa tidak semua tradisi lokal itu harus di tolak, karena lebih arif memandang itu adalah kearifan lokal yang bermakna substansi kulturalitas sekaligus agamis. Sayang sekali artikel ini dimuat sudah berselang lama dengan tulisan patompo itu, padahal penulis mengirim artikel ini dua hari setelah tulisan patompo. Dari patompo tidak ada tanggapan.
