Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Zaman Pendekar Sudah Lewat!

Pertanyaan-pertanyaan dari nurani kemanusiaan ini menjadi penutup narasi kekerasan yang tengah dipertontonkan di tengah-tengah kita. Entah kita akan menjawab jujur “kita bosan kekerasan” ataukah kita akan tetap membohongi diri “suka kekerasan”. Entahlah! Mari kita sama-sama berfikir untuk kehidupan yang lebih harmonis.

----
Sedikit kita balik lembar sejarah. Sebelum nusantara ini bernama Indonesia, kita berbentuk kerajaan-kerajaan yang menyebar. Saat itu belum ada pistol, bom apalagi senjata nuklir. Yang ada adalah jurus-jurus silat dan mantra-mantra sakti yang bisa bikin tubuh kebal bahkan bisa terbang. Selain kerajaan, konon ditengah masyarakat ada yang disebut pendekar. Mereka memilki ilmu yang tinggi, jago pilih tanding, disegani lawan dan disenangi teman.

Diantara pendekar-pendekar itu ada yang disebut pendekar berilmu hitam dan putih untuk menggambarkan pendekar berwatak jahat dan baik. Mereka saling basmi satu sama lain, sama-sama ingin berkuasa. Sehingga kehidupan konon seperti rimba belantara dimana hukum yang berlaku “siapa yang kuat dialah yang menang”.

Akhir-akhir ini didaerah kita NTB, suasana -dunia kependekaran- ini menjadi marak lagi. Berbagai aksi kekerasan dipertontonkan terang benderang. Di Lombok Barat kita disuguhi aksi penyerangan Jema’at Ahmadiyah, di Lombok Tengah kita saksikan masyarakat saling serang antar kampung. Kemudian di Mataram baru saja terjadi, mahasiswa dibunuh oleh penjaga kampus berwajah “preman”. Semua kejadian Ini menimbulkan korban, baik jiwa maupun harta.

Soo.. hukum itu jadi ‘in lagi, “siapa yang kuat dialah yang menang”, rupanya kita lupa bahwa hari ini kita tengah berada di zaman yang demikian berbeda. Hukum Tarzan itu telah lama tergantikan oleh hukum modern bernama Undang-Undang Dasar yang memuat Hak Asasi manusia, toleransi, musyawarah dan pluralisme. Jadilah saat ini hukum berlandaskan kemanusiaan, memberi ruang bagi orang lain untuk hidup, berkreasi serta menikmati kenyamanan dan keamanan.

Kata kuncinya adalah, saling memahami. Segala persoalan semestinya tidak diselesaikan dengan “otot” tapi “otak”. Berfikir yang sehat dan rasional untuk mencapai kebaikan bersama. Saya kira tidak ada salahnya kita luangkan waktu beberapa detik atau menit saja untuk berdialog atau musyawarah daripada kita marah-marah, saling serang, saling tusuk bahkan saling bunuh. Terlalu na’if, kemarahan atau emosi jelas-jelas menimbulkan permasalah baru maka semestinya kita tanggalkan dan mendahulukan hati dan otak yang rasional dan cerdas.

Bukankah Nabi telah jauh-jauh hari mewanti-wanti “Ummatku jangan kamu marah!”. Berkali-kali rasul mengulanginya “jangan kamu marah-jangan kamu marah”! karena marah selamanya tidak akan pernah menyelesaikan masalah.



Nyaris setiap hari di koran, majalah, televisi, radio, internet kita mendengar dan menyaksikan aksi percekcokan, pertengkaran, bentrokan, perusakan dan lainnya sebagainya. Sepertinya hanya itu saja yang bisa dikerjakan penduduk negeri ini. Kekerasan yang kerap menjadi embel-embel setiap kejadian itu membuat kita bosan hidup. Seakan yang ada di dunia ini hanya kekerasan, kekerasan dan kekerasan. Kehidupan manusia seakan hanya mempunyai musuh dan lawan, sementara kawan, sahabat apalagi saudara “nol”. Dus yang terjadi permusuhan, saling menyalahkan, saling serang bahkan saling bunuh tiada henti.

Apakah kita tidak jenuh? Apakah kita tidak punya kebutuhan yang lebih urgen daripada pertengkaran-pertengkaran dan aksi kekerasan itu? Atau memang kita lebih suka pertengkaran daripada duduk bersama berbicara dari dari hati ke hati, melihat persoalan secara jernih dan berdialog dengan akal yang sehat wal’afiat?

Konflik memang tak selamanya buruk. Ia menjadi ruang dialektika manusia menciptakan keadaan yang lebih baik. Semua agama juga mayoritas lahir dari konflik. Islam dengan Muhammad lahir ditengah konflik peradaban antara Muhammad sendiri dengan jahiliyah Makkah, Kristen juga lahir dari kegelisahan Kristus melihat ketimpangan sosial sehingga mendobrak dengan ajaran “kasih”-nya. Demikian pula dengan Hindu, Budha, Konghucu dan aliran kepercayaan yang lain. Semuanya rata-rata berawal dari konflik.

Namun konflik yang berkualitas hanya bisa terjadi ketika dilakukan tidak dengan “nafsu” pengen menang sendiri, demi kepentingan golongan, demi haknya sendiri kemudian memperkosa hak orang lain.

Adalah kenyataan bahwa semua kita merasa paling benar. Tapi kita lupa bahwa pada diri orang lain juga terdapat kebenaran versi mereka, maka ini juga kenyataan. Ketika kebenaran sendiri itu dipaksakan pada orang lain tentu saja akan terjadi konflik yang akhirnya sama-sama ingin keluar sebagai pemenang.

Inikah yang kita ingini? Inikah yang akan kita lakukan terus menerus tanpa henti?. Tidakkah kita sadari bahwa dalam hidup ini yang kita butuhkan adalah kenyamanan, kedamaian dan ketentraman? Maka mengapa kita selalu saling menyakiti, saling rusak dan saling hanguskan?

Pertanyaan-pertanyaan dari nurani kemanusiaan ini menjadi penutup narasi kekerasan yang tengah dipertontonkan di tengah-tengah kita. Entah kita akan menjawab jujur “kita bosan kekerasan” ataukah kita akan tetap membohongi diri “suka kekerasan”. Entahlah! Mari kita sama-sama berfikir untuk kehidupan yang lebih harmonis.[]