Hati dan Produktifitas
Saya yang sedang belajar menulis juga sejujurnya pernah mengalami hal yang beginian...
Suatu kali tangan saya pernah gak bisa berhenti menulis gara-gara sedang jatuh cinta pada seseorang, begitu juga ketika mengalami patah hati, tulisan saya langsung membludak, ada cerpen, puisi, opini atau sekadar unek-unek, fikiran ini terus mengalir bersama perasaan yang seperti diaduk-aduk.
JK. Rowling si penyihir Harry Potter konon juga semakin produktif menulis ketika ia patah hati. ketika ia bercerai dengan suaminya, rowling menuntaskan Harry Potter and the Chamber of Secrets. Kemudian ketika ayahnya meninggal ia menuntaskan bab terakhir Harry Potter and the Order of the Phoenix.
Apa benar, untuk produktif menulis harus patah hati atau jatuh cinta terlebih dahulu???
Saya mengira-ngira, ini adalah erat kaitannya dengan pengalaman spritual seorang penulis, ya barangkali bagi sebagian penulis itu penting dan bagi yang lain tidak.
